Harga Gabah Turun Tiap Tahun

Anjloknya harga gabah saat ini disinyalir pengaruh musim panen raya yang rutin terjadi setiap tahun.

GABAH - Seorang nenek tengah membersihkan gabah usai perontokan. (foto/eka adhiyasa)

Denpasar (bisnisbali.com) – Anjloknya harga gabah saat ini disinyalir pengaruh musim panen raya yang rutin terjadi setiap tahun. Pandemi Covid-19 tidak memengaruhi harga gabah karena konsumsi wisatawan terhadap beras terlebih wisatawan mancanegara (wisman) minim.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali I.B. Wisnuardhana, Rabu (24/3), mengatakan kebutuhan konsumsi penduduk Bali mencapai 142.475 ton beras (estimasi konsumsi Januari-April 2021). Jumlah tersebut diperoleh dari konsumsi langsung rumah tangga ditambah 10 persen untuk kebutuhan nonrumah tangga dan pariwisata.

Persentase untuk kebutuhan pariwisata sangat kecil karena itu tidak memberi pengaruh signifikan terhadap konsumsi beras di tengah pandemi Covid-19.  Berdasarkan data, jumlah kunjungan wisatawan ke Bali sebelum pandemi Covid-19 sekitar 5 juta per bulan. Jumlah ini disesuaikan dengan estimasi hunian selama tiga hari. Di samping itu, kebutuhan konsumsi terutama wisman berbeda. Tidak cenderung beras, melainkan ada pilihan bahan pokok lainnya.

Menurutnya, pandemi Covid-19 yang berdampak pada matinya pariwisata di Bali tidak berpengaruh besar terhadap penurunan jumlah konsumsi beras. Jadi, anjloknya harga gabah bukan dikarenakan pengaruh pandemi Covid-19. “Turunnya harga gabah sering terjadi saat musim panen raya. Jelang panen raya berakhir, harga gabah akan berangsur naik kembali,” terangnya.

Meski turun, harga gabah di Bali saat ini masih lebih baik (tinggi) dibandingkan di daerah lainnya. Untuk mendapatkan harga bagus, petani diimbau menyimpan gabahnya atau mengolah menjadi beras, sehingga harga yang didapatkan jadi lebih tinggi. *wid

BAGIKAN