Harga Emas Masih Tinggi

Di tengah pandemi Covid-19 harga emas masih tetap di atas Rp 900.000 per gram, bahkan hampir menyentuh Rp 1 juta per gram.

EMAS - Salah satu outlet penjualan emas di Denpasar.

Denpasar (bisnisbali.com) Di tengah pandemi Covid-19 harga emas masih tetap di atas Rp 900.000 per gram, bahkan hampir menyentuh Rp 1 juta per gram. Hal ini diduga karena sebagian besar pemegang saham mulai beralih berinvestasi di sektor riil salah satunya emas.

Kepala Pegadaian Cabang Denpasar Suharyono, Selasa (29/9), mengatakan, harga emas masih tetap bertahan di Rp 952.000 per gram. Sejak pandemi Covid-19, harga emas terus naik yang selalu di atas Rp 900.000 per gramnya. “Sebelum pandemi, harga emas Rp 800.000 per gram, setelah itu terus naik dan terus berada di atas Rp 900.000 per gram,” ujarnya.

Hal ini, kata dia, dikarenakan kekhawatiran para pemegang saham di tengah pandemi, sehingga mengalihkan investasinya ke sektor riil. “Jika terjadi resesi, yang paling bertahan adalah investasi di emas. Seperti tabungan emas, dulu saat di-launching tahun 2015 harga emas masih Rp 500.000 per gram, sekarang harganya jadi 2 kali lipat,” terangnya.

Kenaikan harga emas juga diakui oleh salah seorang perajin emas dan perak asal Gianyar, Ni Putu Sudiadnyani. Namun kondisi ini membuatnya tidak berani membuat banyak stok, karena nilai investasinya terlalu besar. Saat ini, diakuinya hanya memproduksi pesanan saja. “Kalau ada order baru kita kerjakan, kalau tidak kami tidak berani menyediakan stok,” ungkapnya.

Demikian, Owner Bara Silver ini mengatakan, permintaan perhiasan sangat minim dalam situasi di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini. Tingginya harga emas tentu sangat berpengaruh terhadap produksinya, ditambah pembelian menurun menjadi kendala baginya.  Selain emas, harga perak juga dikatakannya naik yang saat ini mencapai Rp 12.000 per gram dari sebelumnya Rp 8.000 per gram. Ini pun menambah keterpurukannya di tengah pandemi. *wid

BAGIKAN