Harga Cabai Melambung, Pola Konsumsi harus Mulai Diatur

Beberapa pekan terakhir harga cabai rawit di pasaran terus melonjak yang mencapai Rp100.000 per kilogram.

Beberapa pekan terakhir harga cabai rawit di pasaran terus melonjak yang mencapai Rp100.000 per kilogram. Kondisi ini kerap terjadi pada komoditi pasar yang rentan terhadap perubahan cuaca. Lalu apa yang harus dilakukan untuk menjaga stabilitas harga?

TIDAK hanya saat ini, dalam pergerakannya, harga cabai pernah mencapai Rp200.000 per kilogram. Kondisi ini pun sempat meresahkan masyarakat dan berbagai upaya dilakukan untuk dapat mengendalikan harga. Seperti menanam cabai di pekarangan hingga mengatur pola tanam di petani. Namun hal ini tidak mampu menjadi solusi, karena saat ini pun harga cabai kembali melambung di tengah perubahan cuaca yang terjadi secara nasional.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Provinsi Bali I Wayan Jarta mengatakan, kenaikan harga cabai saat ini dikarenakan hujan yang terus mengguyur daerah hulu sehingga membuat gagal panen. Cabai dikatakannya menjadi salah satu produk pertanian yang sangat rentan terhadap hujan. “Saat ini kondisi di petani, cabai yang siap panen mengalami kerontokan, di sisi lain karena musim hujan petani juga tidak dapat memanen hasil produksinya,” ungkapnya.

Demikian dikatakannya, seharusnya panen cabai rawit saat ini ada, hanya karena terganggu cuaca membuat cabai menjadi rusak dan terjadi kelangkaan di pasaran. Hal ini pun berpengaruh terhadap kenaikan harga yang terus terjadi beberapa pekan terakhir.

Sementara itu, Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali I Wayan Sunartha menjelaskan, kemarau panjang yang terjadi pada 2019 membuat proses tanam diundur yang kondisi ini terjadi secara nasional. Dijelaskannya, dilihat dari data statistik antara produksi cabai rawit di Bali dibandingkan dengan kebutuhan, kondisi masih surplus, namun cuaca yang sangat mempengaruhi produksi membuat terjadi kelangkaan pasokan pada waktu-waktu tertentu. “Di sisi lain karena kenaikan harga terjadi secara nasional, produksi di Bali bisa saja dibawa ke luar Bali, saat harga yang ditawarkan lebih mahal. Hal itu juga menyebabkan terjadi kelangkaan barang di pasaran,” jelasnya.

Untuk menanggulangi terjadinya fluktuasi harga, menurut Sunartha, keberadaan cold storage belumlah merupakan satu-satunya solusi untuk menyimpan cabai saat musim berlimpah dan mengeluarkannya saat harga tinggi. Kelemahannya, harga cabai yang mengalami perubahan setiap hari, akan membuat kerugian yang cukup besar ketika saat penyimpanan di cold storage harga yang terjadi malah terus turun. Dikatakannya, penyimpanan di cold storage hanya bisa bertahan maksimal 1 bulan.

Sunartha menjelaskan, pihaknya lebih menyarankan pada pengaturan pola konsumsi dalam arti masyarakat mulai terbiasa untuk mengkonsumsi cabai olahan. “Sebenarnya hanya persoalan mind set, karena rasa pedas yang ditawarkan oleh cabai olahan dan cabai basah sama, terutama dalam membuat bumbu. Hanya cabai olahan harus murni tanpa ada penambahan bahan lain,” jelasnya.

Demikian juga masyarakat juga menanam cabai di dalam pekarangan rumah terus dilakukan, untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga. “Jika itu dilakukan, cabai segar yang ditanam di pekarangan rumah bisa dimanfaatkan untuk konsumsi langsung misal peneman gorengan. Sementara untuk cabai olahan digunakan untuk keperluan pelengkap bumbu. Jadi ini bisa sebagai alternatif saat harga cabai melonjak di pasaran,” imbuhnya. *wid

BAGIKAN