Harga Ayam Masih di Bawah BEP 

Sejumlah peternak kerakyatan mengeluhkan harga jual ayam broiler di tingkat peternak tak mampu bertahan di kisaran stabil, meski sebelumnya Pemerintah Provinsi Bali telah memberlakukan pembatasan kuota atau populasi ayam di Bali yang hanya 4 juta ekor per bulan.

Tabanan (bisnisbali.com) –Sejumlah peternak kerakyatan mengeluhkan harga jual ayam broiler di tingkat peternak tak mampu bertahan di kisaran stabil, meski sebelumnya Pemerintah Provinsi Bali telah memberlakukan pembatasan kuota atau populasi ayam di Bali yang hanya 4 juta ekor per bulan. Saat ini harga jual ayam broiler di tingkat peternak cenderung berada di bawah break even point (BEP) atau Rp 20.5000 per kg.

Peternak ayam mandiri di Desa Tunjuk, Tabanan, I Wayan Sukasana, Minggu (7/3) kemarin, mengungkapkan saat ini nasib peternak ayam kerakyatan makin susah. Betapa tidak, harga jual ayam di tingkat peternak cenderung berada di bawah BEP. Yakni, di level Rp 19.000 per kg, bahkan harga tersebut pada dua minggu lalu sempat jauh turun hingga menyentuh Rp 13.000 per kg. Dia memprediksi, penurunan harga terjadi akibat meningkatnya populasi karena harga sebelumnya yang sempat naik dengan berada di level Rp 24.000 per kg.

“Harga yang naik ini kemudian membuat sejumlah kalangan meningkatkan populasi dengan harapan mendapat untung. Tapi sayangnya itu tidak terjadi karena populasi yang meningkat tidak dibarengi dengan naiknya serapan pasar, sehingga harga anjlok,” tuturnya.

Diungkapkannya, level harga Rp 13.000 per kg ini bertahan dua hari kemudian harga kembali menguat meski tetap memposisikan di bawah BEP. Kondisi tersebut tidak sejalan dengan biaya produksi khususnya pakan yang cenderung makin mahal. Harga pakan pada awal Februari lalu kembali naik menjadi Rp 410.000 per sak, ditambah juga dengan harga DOC yang mahal dengan berada di level Rp 7.000 per ekor saat ini.

“Per awal Februari pihak pabrikan sudah menaikkan harga pakan dan rencananya kenaikan harga kembali akan dilakukan dalam waktu dekat. Itu pula membuat banyak peternak kerakyatan ini kolaps karena harga jual produksi yang terus di bawah BEP,” ucapnya.

Kata Sukasana, pihaknya juga terpaksa mengurangi isian populasi kandang menjadi 20 persen dari kapasitas normal. Harga jual ayam broiler di tingkat peternak yang cenderung di bawah BEP ini tidak sejalan dengan tujuan dari pengaturan populasi oleh pemerintah daerah yang sebelumnya dibentuk untuk mengatur kuota membatasi 4 juta ekor per bulan. Bahkan, ada indikasi pengaturan kuota ini tidak efektif, sehingga harga menjadi jatuh. “Saat harga anjlok ada kemungkinan populasi ayam broiler di Bali berada di atas 4 juta ekor, bahkan kemungkinan mencapai 6 juta ekor,” tandasnya.

Dia pun berharap Pemprov Bali selain mengatur kuota juga membentuk tim satgas pangan untuk mengamankan kebijakan tersebut. Pemerintah hendaknya bisa memperketat pengawasan sehingga harga di tingkat peternak ini bisa terkendali atau berada di atas BEP. Upaya ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam menggiatkan sektor pertanian dalam arti luas, karena saat ini sektor pertanian lah yang menjadi satu-satunya bisa diupayakan oleh Bali dalam menopang pertumbuhan ekonomi daerah di tengah dampak pandemi Covid-19.

“Sebenarnya yang menguatkan ekonomi Bali adalah di sektor pertanian secara umum. Sebab pariwisata sudah kolaps. Bercermin dari itu, mestinya sektor pertanian ini dijaga dan atur dengan baik oleh pemerintah,” tegasnya.

Sementara itu, data di Disperindag Kabupaten Tabanan dari monitoring harga bahan pangan di sejumlah pasar tradisional di Tabanan menyebutkan, komoditi harga daging ayam di tingkat pedagang cenderung stabil dengan berada di level Rp 35.000  per kg. Begitu juga untuk harga daging sapi di tingkat pedagang stabil di level Rp 100.000 per kg saat ini. *man

BAGIKAN