Hanya Garap Wisdom, Pelaku Pariwisata Sulit Penuhi Biaya Operasional

Belum dibukanya kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), mengharuskan Bali untuk maksimal menggarap wisatawan lokal dan wisatawan domestik (wisdom).

Gianyar (bisnisbali.com) Belum dibukanya kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), mengharuskan Bali untuk maksimal menggarap wisatawan lokal dan wisatawan domestik (wisdom). Namun, kontribusi wisatawan lokal dan wisdom dinilai belum mampu memenuhi biaya opersional khususnya hotel dan vila berbintang di Bali, meski berbagai penawaran sudah diberikan.

General Manager The Kayon, I Nengah Suweca saat ditemui di Payangan, Gianyar, Minggu (30/8) kemarin, mengatakan, kemampuan berwisata bagi masyarakat Bali dan nusantara saat ini masih sangat rendah. Masyarakat ekonomi menengah ke atas pun masih terbatas untuk melakukan perjalanan. “Ekonomi menengah ke bawah terkena krisis dampak Covid-19. Jangankan berwisata, bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka masih harus berjuang,” ujarnya.

Meski sudah berusaha maksimal menggarap wisatawan lokal, pihaknya mengaku masih belum bisa untuk memenuhi operasional resort yang dikelolanya. “Karena untuk seukuran The Kayon pangsa pasar lokal sangat terbatas bahkan belum pernah mencapai 10 persen pada kondisi normal sebelum covid. Apalagi setelah covid,” ujarnya.

Disinggung soal upaya yang dilakukan di tengah pandemi Covid-19 ini, Suweca mengatakan, saat ini pihaknya memberikan promo khusus hingga 50 persen untuk wisatawan lokal. Pihaknya juga membuat penawaran paket untuk pengambilan foto prewedding, paket perayaan ulang tahun dan acara lainnya.

Hal senada diungkapkan oleh General Manager Furama Xclusive Resort & Villa, Ubud Bali Wayan Sumandia yang mengatakan untuk wisatawan lokal cukup ramai terutama pada akhir pekan. Sementara untuk wisatawan nusantara dikatakannya masih belum ada pergerakan. Selain menawarkan berbagai paket yang bisa dijangkau oleh wisatawan lokal, pihaknya juga memberikan diskon tarif menginap hingga 75 persen dalam upaya menjaring wisatawan lokal.

Namun Sumandia mengaku pesimis bisa bertahan, karena Bali tidak bisa lepas dari wisman. “Saat ini mungkin masih ada lonjakan kunjungan, karena sebelumnya masyarakat jenuh kelamaan di rumah. Tapi tidak tahu apa yang akan terjadi sebulan dua bulan ke depan. Terlebih lagi melihat perekonomian masyarakat di tengah pandemi saat ini. PNS juga ada pemotongan, kalau uang meraka sudah pada habis, ya tidak ada lagi yang bisa diharapkan,” terangnya.

Dengan itu Sumandia sangat berharap Bali mendapatkan pengecualian dari larangan menerima wisman. Kunjungan wisman sangat diharapkan untuk memulihkan pariwisata Bali. *wid 

BAGIKAN