Hadapi Revolusi Industri 4.0, Desa Perlu Sadar Jamsostek

Dalam menghadapi revolusi industri 4.0, perangkat desa selain memahami cara membangun desa juga perlu mengetahui pentingnya jaminan sosial ketenagakerjaan.

Denpasar (bisnisbali.com) –Dalam menghadapi revolusi industri 4.0, perangkat desa selain memahami cara membangun desa juga perlu mengetahui pentingnya jaminan sosial ketenagakerjaan.
Deputi Direktur BPJS Ketenagakerjaan Wilayah Bali, Nusa Tenggara, dan Papua (Banuspa) Deny Yusyulian mengatakan di sinilah perlunya efektivitas pengelolaan aset desa dalam menghadapi revolusi industri 4.0 yang diselenggarakan secara virtual.
“Ini sekaligus dalam rangka peningkatan cakupan perluasan kepesertaan di Bali, khususnya kepesertaan perangkat desa serta untuk mensinergikan visi Provinsi Bali Nangun Sat Kerti Loka Bali,” katanya.

Menurutnya perlu edukasi terkait program desa sadar jaminan sosial ketenagakerjaan serta penggerak jaminan sosial Indonesia (perisai). Pembentukan desa sadar bertujuan agar masyarakat desa mengenal lebih dekat program BPJamsostek sehingga menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya jaminan sosial ketenagakerjaan, timbul kesadaran perangkat desa terhadap kesejahteraan masyarakat pekerja di desa.
“Melalui program jaminan sosial ketenagakerjaan seluruh perangkat desa, yayasan atau BUMDes, tenaga ahli atau pendamping desa, pelaku ekonomi di desa menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan,” ujarnya.

Benefit menjadi desa sadar BPJamsostek yaitu mendapatkan bantuan berupa perbaikan fasilitas umum seperti sekolah, tempat ibadah, tempat pabrik dan lainnya. Meningkatkan pemasukan desa melalui pembentukan kantor perisai. Brand awarnees desa meningkat melalui publikasi BPJS ketenagakerjaan.
Ia pun menyebutkan salah satu syarat dinobatkannya sebuah desa sebagai desa Sadar Jaminan Sosial Ketenagakerjaan adalah dengan terdaftarnya para aparatur desa pada program perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan yang diselenggarakan oleh BPJS Ketenagakerjaan.
“Jika seluruh aparat desa sudah memahami pentingnya akan jaminan sosial ketenagakerjaan, diharapkan seluruh masyarakat pekerja di desa ini juga bisa teredukasi dengan baik,” paparnya.

Sementara itu Founder Berkarakter Foundation M. Husein Hutagalung secara virtual mengatakan sejak tahun 2019 telah memasuki revolusi industri 4.0 yang ditandai meningkatnya konektivitas, interaksi dan batas antara manusia mesin dan sumber daya lainnya semakin konvergen melalui teknologi informasi dan komunikasi.
“Dari fenomena tersebut pariwisata menjadi yang paling terdampak dengan semakin berwarnanya sektor tersebut,” katanya.
Menurutnya lebih dari enam dekade pariwisata telah menjadi sektor tercepat dalam perkembangan sebagai salah satu aktivitas ekonomi dunia. Indonesia sebagai salah satu negara yang sedang giat dalam pembangunan pariwisatanya mengingat Indonesia memiliki potensi pariwisata yang sangat besar. Selain sumber daya alam keberagaman sumber daya budaya dan masyarakatnya menjadi daya tarik tersendiri bagi negeri ini. Pariwisata berbasis masyarakat (CBT) sering disebut sebagai alternatif dari kegiatan pariwisata massal yang pendekatannya bertujuan agar pariwisata menjadi lebih berkelanjutan .

“Desa wisata merupakan salah satu bentuk aplikasi pariwisata berbasis masyarakat dan pengembangan pariwisata berkelanjutan,” ucapnya.
Pariwisata berbasis masyarakat diartikan bahwa pengelolaan dan kepemilikannya oleh masyarakat dan untuk kepentingan masyarakat. Desa wisata sebagai model pengembangan pariwisata berkelanjutan yang sangat berguna bagai komunitas lokal dalam menghasilkan pendapatan, mendiversifikasi ekonomi lokal, melestarikan budaya melestarikan lingkungan dan peluang sebagai pusat pendidikan kearifan lokal.*dik

BAGIKAN