Hadapi Persaingan di Era Digital, Kuasai Teknologi, Perkuat Jati Diri Koperasi 

Persaingan ketat di era digital saat ini, harus dihadapi dengan penguasaan teknologi dan memperkuat jati diri koperasi.

Dr. Putu Sarjana, S.E., M.Si.

Denpasar (bisnisbali.com)Persaingan ketat di era digital saat ini, harus dihadapi dengan penguasaan teknologi dan memperkuat jati diri koperasi. Dengan demikian, koperasi akan tetap hidup dan mampu bersaing.

Penasehat KSU Kori Amerta Sedana, Dr. Putu Sarjana, S.E., M.Si., Minggu (19/1) di Denpasar mengatakan, koperasi, LPD, BPR, bank umum sebenarnya sudah punya kluster-kluster yang dituju. Dengan persaingan yang sehat yang pertama harus diperhatikan adalah profesionalisme pengelolaan koperasi. “Kompetisi akan memberikan sebuah harapan, tapi bagi mereka yang tidak profesional akan mati dengan sendirinya,” katanya.

Akademisi Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar ini mengatakan, jika koperasi profesional maka akan mampu berkompetisi dengan kondisi pasar yang sangat terbuka. Di sisi lain, koperasi tidak boleh lupa bahwa pemanfaatan teknologi yang berkaitan dengan kemudahan dari masyarakat untuk mendapatkan kredit maupun menjadi anggota koperasi adalah sesuatu yang harus diperkuat oleh institusi seperti koperasi. “Tanpa penguatan teknologi karena sekarang adalah era digital, harus ada penguatan terhadap sistem-sistem digital yang memang tidak boleh tidak ke depan, semua koperasi harus bermuara pada itu,” katanya.

Kemudian sasaran dari koperasi adalah untuk membantu anggota. Bagaimana membantu anggota yang bisa  sebanyak-banyaknya, tapi juga berarti bagaimana mereka mampu untuk merawat anggota sebanyak-banyaknya dari kategori menengah ke bawah.  Namun, dengan stimulus bahwa ketika ia menjadi anggota itu berarti dia mendapatkan pelayanan yang maksimal dari koperasi itu. “Ketika di awal mereka dijadikan sebagai anggota diberikan pelayanan yang baik, namun untuk berikutnya mereka tidak mendapatkan pelayanan yang baik. Nah ini yang akan menjadi persoalan,” katanya.

Ke depan yang harus dilakukan adalah penguatan teknologi dan informasi, sehingga mereka mudah mengakses koperasi. “Kemudian memberikan pelayanan yang maksimal sepenuh hati, sehingga koperasi berkembang sesuai dengan jiwa koperasi yang disemangati kebersamaan. Pelayanan maksimal kepada anggota, sehingga semua masyarakat bisa masuk dalam anggota koperasi dengan jumlah koperasi yang banyak di Kota Denpasar. Dengan mampu berkontribusi seperti itu saya yakin koperasi akan tetap hidup ke depan,” katanya.

Terkait maraknya financial technology (fintech) yang menawarkan jasa, Sarjana mengatakan, koperasi tidak perlu takut. “Kalau koperasi sudah melakukan penguasaan terhadap teknologi, tidak perlu takut dengan fintech itu. Karena fintech itu banyak juga yang bermasalah, peminjam dan yang memberikan pinjaman tidak pernah bertemu dan banyak juga penipuan yang dilakukan oleh fintech,” katanya.

Berbeda dengan kegiatan koperasi yang dilakukan dengan tatap muka langsung, akan jauh lebih memberikan harapan. Dengan jati diri koperasi, untuk meningkatkan kesejahteraan anggota maka koperasi akan tetap hidup. *pur

BAGIKAN