Gugah Kesadaran Masyarakat Kurangi Sampah Plastik

KRAMA BALI - Peserta Gerakan Satu Juta Krama Bali foto bersama usai kegiatan di Ananda Marga Yoga Center di Karangasem.

Amlapura (bisnisbali.com) – Semangat menjaga alam Bali sebagaimana visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali sepatutnya terus digelorakan. Dalam hal ini, desa adat bisa menjadi ujung tombak untuk terus menggugah kesadaran dan partisipasi masyarakat, seperti dalam program mengurangi sampah plastik. Hal ini disampaikan Bendesa Adat Kerta Sari, I Dewa Gede Ardika pada kegiatan Gerakan Satu Juta Krama Bali dan Gerakan Satu Juta Yowana Bali yang digelar, Selasa (22/12).

Kegiatan yang merupakan sinergi Yayasan Darma Naradha (YDN), Kelompok Media Bali Post (KMB) dengan Pemerintah Provinsi Bali ini dilaksanakan di Ananda Marga Yoga Center, Kelurahan Padangkerta, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem, pada Selasa (22/12). Pada kegiatan yang diikuti peserta dari perwakilan yowana dan krama di delapan kecamatan di Karangasem itu dipaparkan berbagai upaya komponen masyarakat dan pemerintah dalam menjaga alam Bali.

Lebih lanjut Dewa Gede Ardika menjelaskan, Desa Adat Kerta Sari telah mengajak kramanya untuk mengurangi timbulan sampah plastik. Contohnya, di Pasar Desa Kertasari para pedagang sudah diminta mengurangi penggunaan tas kresek sebagai tempat atau pembungkus barang belanjaan. Pembeli harus membawa tas dari rumahnya. Jika ditemukan tidak membawa tas belanjaan, pembeli diminta pulang mengambil tas belanjaan. Secara tegas pembeli tidak diperbolehkan menggunakan pembungkus plastik sekali pakai.

Kebijakan ini bukan tanpa alasan kuat. Sebagai seorang guide turis mancanegara, dia mengaku malu jika mengantar turis berwisata ke pasar tradisional yang kotor dan banyak sampah plastik. Tentu saja hal tersebut akan mencoreng citra pariwisata Karangasem khususnya dan Bali pada umumnya. Alhasil, masyarakat Bali juga yang akan rugi.

Tak hanya itu, krama Desa Adat Kerta Sari juga mengimplementasikan kebijakan mengurangi sampah plastik saat kegiatan keagamaan. Saat nunas tirta, krama tidak diperkenankan menggunakan wadah kantung plastik, melainkan membawa toples kecil. Krama juga tidak diperkenankan membungkus banten dengan memakai kantong plastik.

Agar semangat menjaga lingkungan ini meluas, pihaknya berharap pemimpin Karangasem khususnya Bupati dan Wakil Bupati terpilih, Gede Dana-Wayan Arta Dipa, nantinya agar fokus menata kebersihan pasar tradisional. Pasar tradisional ditata bersih, agar semua orang yang ada di sana nyaman dan menarik dikunjungi wisatawan.

Sementara itu, Ketua Komunitas Eco Enzyme, I Ketut Budiarta menjelaskan, pemilahan sampah sangat perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya penumpukan sampah. Terlebih lagi, TPA Butus sudah dipenuhi dengan sampah. “Jika sampah tidak diolah, maka sampah akan penuh. Jangan sampai sampah rumah tangga membebani petugas kebersihan dan TPA. Maka dari itu, mulailah olah sampah agar dapat bermanfaat,” Ucapnya.

Budiarta menambahkan, selama ini sampah organik seperti kulit bawang, sayuran, mangga dan yang lainnya biasanya selesai pemakai dibuang begitu saja. Padahal sejatinya sampah organik tersebut dapat diolah dengan banyak bermanfaat, salah satunya dipakai eco enzyme. Eco enzyme memiliki banyak manfaat baik dari sisi pertanian, lingkungan hingga kesehatan. Untuk pertanian, eco enzyme ini dapat dipergunakan sebagai pupuk organik cair semua jenis tanaman.

Untuk lingkungan, eco enzyme bisa dipakai membersihkan air. Salah satunya, air yang ada di Tukad Badung Denpasar. Setelah pemakaian eco enzyme, air di Tukad badung mulai terlihat bening. “Selain itu, juga bisa dipakai untuk pembersih lantai, toilet, cuci pakaian dan pembersih perak,” jelasnya sembari menambahkan, eco enzyme juga bisa dipakai sebagai obat luka ringan, gatal-gatal, jerawat, bisul hingga untuk gosok gigi.*bud

BAGIKAN