”Growth” hanya 4,5 Persen, Kehilangan Rp127 Triliun

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira saat dihubungi menyampaikan jika pada 2019 produk domestik bruto (PDB) menurut harga berlaku mencapai Rp15.833,9 triliun,

Denpasar (bisnisbali.com) –Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira saat dihubungi menyampaikan jika pada 2019 produk domestik bruto (PDB) menurut harga berlaku mencapai Rp15.833,9 triliun, maka pertumbuhan pada 2020 dengan angka APBN 5,3 persen asumsinya menjadi Rp16.673 triliun. Jika growth hanya 4,5 persen, PDB nilainya Rp16.546 triliun.

“Ini berarti kita kehilangan Rp127 triliun karena virus corona. Imbasnya ke daya beli masyarakat, pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor khususnya pariwisata dan industri dan adanya penurunan investasi,” katanya.

Bhima mengatakan, dengan kondisi tersebut upaya menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran akan terhambat. Ia pun menerangkan dampak corona bisa ditelusuri lewat korelasi hubungan ekonomi Tiongkok ke Indonesia. Jadi setiap 1 persen pertumbuhan Tiongkok turun, ekonomi Indonesia bisa terpengaruh 0,3 persen. Ini karena korelasi perdagangan dan investasi Indonesia-Tiongkok cukup besar.

Prediksinya, tahun ini Tiongkok akan meluncur 5 persen growth-nya, atau turun 1 persen dibanding 2019.

“Sebelum ada virus corona INDEF pasang target pertumbuhan pada 2020 sebesar 4,8 persen. Jadi kalau mau direvisi tahun ini growth bisa turun ke 4,5 persen karena virus corona,” paparnya.

Ia menilai, upaya pemerintah melakukan stimulus untuk mencegah dampak corona memang penting, tetapi perlu lebih tepat sasaran. Contohnya, terkait rencana dana influencer Rp72 miliar terkesan mubazir, karena dengan kondisi wabah corona di berbagai negara sulit diharapkan wisman mau berkunjung ke Indonesia. Untuk itu, Bhima berharap pertama, lebih baik anggaran tersebut digunakan untuk memperbaiki fasilitas kesehatan dan pencegahan virus di pintu pintu perbatasan Indonesia.

Kedua, adanya regulasi terkait kemudahan impor sebagai langkah antisipasi corona harus mempertimbangkan dampak pada produsen dalam negeri khususnya UMKM.

“Justru di tengah wabah corona dan impor terhambat, menjadi peluang bagi industri dalam negeri untuk menjadi substitusi atau pengganti impor. wabah corona memberi pelajaran pentingnya Indonesia membangun kemandirian dan tidak bergantung pada barang impor,” ujarnya.

Ketiga, pemerintah agar memberikan insentif yang langsung dirasakan oleh pelaku usaha pariwisata, industri dan pelaku ekspor dalam bentuk tax holiday pengurangan tarif PPh badan. Untuk sektor perhotelan dan restoran, bantuan berupa diskon tarif listrik juga penting agar beban produksi setidaknya bisa lebih ringan.

“Bank Indonesia (BI) bisa turunkan bunga acuan 50 bps untuk menstimulus kredit perbankan dan meringankan beban pelaku usaha,” kata Bhima. *dik

BAGIKAN