Gerakkan Perekonomian Bali, Ini yang Harus Diperhatikan Pemerintah

Tidak bergeraknya sektor pariwisata Bali selama pandemi Covid-19 pada 2020 secara tidak langsung berimbas pada terkontraksinya pertumbuhan ekonomi di Pulau Dewata.

WISATAWAN – Wisatawan mancanegara menikmati panorama Pantai Canggu. Terpuruknya pariwisata membuat perekonomian Bali terus melemah. (foto/eka adhiyasa)

Denpasar (bisnisbali.com) – Tidak bergeraknya sektor pariwisata Bali selama pandemi Covid-19 pada 2020 secara tidak langsung berimbas pada terkontraksinya pertumbuhan ekonomi di Pulau Dewata. Pertumbuhan ekonomi Bali pada 2020 bahkan terlemah secara nasional.

Terkait hal itu, praktisi ekonomi, Dr. I Gde Made Sadguna belum lama ini mengatakan, untuk mengurangi keparahan pertumbuhan ekonomi Bali pada 2021, diperlukan beberapa kebijakan dan koordinasi yang terarah dan terukur. Mantan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali ini optimis pada 2021 sudah dirancang berbagai paket kebijakan dan program baik di tingkat nasional, provinsi maupun kabupaten/kota.

“Kebijakan dan program tersebut pasti akan cukup signifikan untuk mengurangi keparahan minusnya pertumbuhan ekonomi Bali yang diakibatkan oleh dampak ganda pandemi virus Covid-19,” katanya.

Sadguna menerangkan, dengan dipimpin langsung Gubernur Bali, semua OPD perlu diberi arahan dan target program yang jelas untuk menggerakkan perekonomian Bali. Begitu juga koordinasi vertikal antara provinsi dengan pusat dan antara provinsi dengan kabupaten/kota sudah diintensifkan oleh Gubernur Bali dan perangkat-perangkat daerah yang terkait.

Ia pun berharap semua anggota kelompok ahli dikerahkan untak mendampingi OPD agar implementasi program dapat diakselerasi secara cepat dan tepat. “Dengan semua upaya itu rasanya mustahil kalau di tahun 2021 tidak ada perbaikan yang signifikan,” ucapnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Kadin Bali Bidang Fiskal dan Moneter I.B. Kade Perdana mengatakan, lokomotif perekonomian Bali didukung oleh sektor pertanian dalam arti luas dan industri kerajinan rakyat sebagai industri kreatif. Hal itu merupakan motor penggerak perekonomian Bali. “Ekonomi Bali 2020 masih terkontraksi dan berharap tidak sampai dalam terkapar. Untuk itu kita harus berjaga-jaga dan mengantisipasi kemungkinan berkepanjangannya musibah wabah Covid-19 dengan variannya,” katanya.

Dapat dibayangkan dengan pertumbuhan minus pada 2020, kata dia, betapa besarnya jumlah pengangguran yang tercipta dampak dari industri pariwisata Bali yang terpuruk hebat dan lumpuh total. Bila Covid-19 berkepanjangan dan tidak tertangani dengan efektif sebagaimana ada yang meramalkan baru akan berakhir pada 4 sampai 5 tahun mendatang. Marilah bersatu padu bersama pemerintah mengatasi permasalahan dampak dari Covid -19.

Dengan memprediksi pertumbuhan ekonomi Bali pada tahun 2021 berkisar antara 4,5 hingga 5,5 persen seiring dengan sejumlah indikator ekonomi yang menunjukkan arah perbaikan yang didukung tiga hal adanya kedatangan wisatawan domestik ke Bali, berlanjutnya proyek-proyek swasta dan pemerintah dan meningkatnya belanja pemerintah termasuk dalam penanganan Covid-19. Ia pun berharap perlu dibuat dua skenario yang bersifat jangka pendek dan jangka panjang sekaligus dengan membuat analisa SWOT apa yang masih menjadi kekuatan dan kelemahannya secara internal. *dik

BAGIKAN