Gencar Promosi di Medsos

BISNIS kuliner yang menyuguhkan khas makanan favorit pun harus ikut merasakan kerasnya pengaruh pandemi Covid-19.

BISNIS kuliner yang menyuguhkan khas makanan favorit pun harus ikut merasakan kerasnya pengaruh pandemi Covid-19. Menggencarkan promosi di media sosial (medsos) pun menjadi salah satu cara ampuh untuk tetap bertahan.

Owner Babi Guling Jik Kadot, I Dewa Putu Ardita Yasa mengatakan, bisnisnya mengalami hal yang sama dengan pebisnis kuliner lainnya karena menurunnya daya beli masyarakat. Namun, karena bisnis yang dijalaninya berhubungan dengan cita rasa yang mampu menumbuhkan minat masyarakat, maka banyak promosi dihadirkan untuk menggaet pembeli. Berpegang dengan fakta, medsos sudah mampu digunakan oleh berbagai kalangan, kesempatan ini pun diambil pihaknya dengan gencar promosi melalui medsos.

“Kami terapkan formasi 442 kalau istilahnya di sepak bola. Di bisnis ini juga sama, kemampuan bertahan yang utama. Sebagai pebisnis kuliner, harus mampu mengeluarkan kreasi baru untuk mampu bersaing dengan yang lainnya. Promo yang dilakukan sangat unik. Contohnya promo CPNS kemarin kami jadikan kegiatan tersebut sebagai kesempatan untuk promosi. Jadi, bagi mereka yang lolos ujian CPNS harus menepati sesanginya membeli satu babi guling di sini. Yang kedua, promosi bagi babi guling dengan gratis ongkos kirim. Bagian tulisan ongkos kirim sengaja diperkecil tulisannya untuk menarik perhatian. Itu cara yang dilakukan agar babi guling Jik Kadot semakin dikenal di masyarakat,” ujar Ardita Yasa.

Promosi-promosi tersebut, seluruhnya dilakukan di medsos. Karena zaman sekarang semua sudah mengenal medsos dan selalu berinteraksi melalui handphone. Selain itu, selama pandemi, bentuk kreativitas lainnya adalah menyuguhkan varian menu baru yang sedang banyak diminati di kalangan masyarakat.

Yakni, menyediakan babi guling samsam. Menu baru itu diterima positif oleh masyarakat dan membantu berjalannya bisnis di tengah pandemi. “Kendala pasti selalu ada dalam berbisnis. Kami jelas kendalanya ada pada bahan utama, yakni babi. Terutama pada pencarian bibitnya. Bukan hanya sulit dicari, harganya pun melambung tinggi. Sebelum pandemi, kami memproduksi setidaknya satu ekor per harinya. Setelah pandemi, memang selalu ada, tapi tidak setiap hari. Karena masih ada warung babi guling yang buka dan kami supply,” imbuhnya.

Bukan hanya men-supply warung-warung, sebelum pandemi pihaknya juga menjalin kerja sama dengan vila, untuk wedding party dan mengirim sampai ke luar kota. Dengan adanya pandemi, menumbuhkan kesempatan untuk terus belajar sehingga ke depannya mampu memberikan varian menu baru yang berbahan dasar babi guling. *git

BAGIKAN