Gaungkan  ’’Work From Bali” dan Transformasi Ekonomi

Pemerintah menggaungkan work from Bali (WFB) atau melakukan pekerjaannya dari Bali dalam upaya mengoptimalkan pemulihan pariwisata dan menjaga perekonomian di Pulau Dewata agar dapat tumbuh.

EKONOMI TUMBUH - Suasana salah satu pantai yang terdampak Pandemi Covid-19. Sejumlah upaya bisa dilakukan pemerintah, seperti WFB untuk membuat ekonomi Bali kembali tumbuh. (foto/eka adhiyasa)

Denpasar (bisnisbali.com) – Pemerintah menggaungkan work from Bali (WFB) atau melakukan pekerjaannya dari Bali dalam upaya mengoptimalkan pemulihan pariwisata dan menjaga perekonomian di Pulau Dewata agar dapat tumbuh.

Deputi Bidang Koordinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kemenko Marves Odo Manuhutu dalam Konfrensi Pers Program Work From Bali secara virtual mengatakan, kenapa WFB perlu dilakukan dalam upaya menciptakan demand. “Demand penting karena tulang punggung pariwisata Bali adalah okupansi,” katanya.

Menurutnya di Bali terdapat 140.000 kamar. Bisa dibayangkan kalau kamar hotel tersebut hanya terisi sangat minim. Belum lagi banyak tenaga kerja di Bali tidak bekerja selama 10-14 bulan. Oleh karenanya WFB penting perannya dilakukan oleh pemerintah dalam upaya bersama untuk memulihkan perekonomian Bali.

Apakah cukup hanya WFB?. Kata Odo, salah satu rencana dari pemerintah selain WFB adalah proses untuk transformasi perekonomian Bali sehingga tidak terlalu bergantung pada sektor pariwisata yang mencapai 56 persen. “Transformasi ini sedang kita bahas bersama-sama dengan pemda dan Bappenas dan Bank Indonesia yang akan diluncurkan pada bulan September,” paparnya.

Dengan proses transformasi ekonomi ini diharapkan Bali mempunyai perekonomian yang kokoh dan ekonominya terdiversifikasi kian baik.

Kepala Kantor Perwakilan BI Bali, Trisno Nugroho pada kesempatan sama menyampaikan seperti halnya kereta api, lokomotifnya ekonomi Bali adalah pariwisata. “50 persen lebih ketergantungan pertumbuhan ekonomi Bali dari pariwisata. Begitu pariwisatanya dari luar negeri itu dihentikan atau distop, kemudian ada pembatasan pembatasan kegiatan di Indonesia, tentunya Bali sangat terkena dampaknya,” katanya.

Itu terlihat tahun lalu itu, dari 34 provinsi di Indonesia pertumbuhan ekonomi Bali pada 2020 yang paling tertekan. Untuk itu kenapa bekerja dari Bali? kata Trisno bila diperhatikan outbound tourism Indonesia yaitu 11,69 juta orang yang keluar negeri. Bila data ini bisa diarahkan ke Bali saja sekitar 5 persen maka bisa memberikan dampak kepada Bali sehingga pertumbuhan ekonomimnya tidak terlalu tertekan. “Kami harapkan empati daerah lainnya mengingat Bali masih ketinggalan daeri daerah lainnya,” ujarnya.

BI menyadari perkembangan ekonomi sangat tergantung dari pariwisata nusantara, mengingat kedatangan wisman mungkin masih diperlukan waktu lagi untu membukanya sehingga minimal wisata nusantara yang diharapkan datang ke Bali.

Sementara itu Wakil Gubernur Bali, Tjokorda A.A. Sukawati dalam informasi tertulisnya menyampaikan pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia  termasuk Bali, telah menimbulkan dampak yang luar biasa terhadap seluruh sendi kehidupan masyarakat Bali, khususnya di sektor ekonomi. PDRB prop Bali yang 53 persen lebih bertumpu di sektor pariwisata mengalami kontraksi yang sangat dalam yaitu sebesar – 9,3 persen di tahun 2020, dan – 9,85  persen pada kuartal pertama tahun 2021. Kondisi ini merupakan kontraksi terendah di antara propinsi se Indonesia sehingga sangat berpengaruh terhadap kemampuan daya beli masyarakat dan juga terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan, yang terjadi akibat adanya pemutusan hubungan kerja oleh beberapa perusahaan.

“Melihat kondisi tersebut, saya atas nama masyarakat pariwisata Bali, sangat mengapresiasi langkah-langkah yang diambil oleh Menterian Koordinator Bidang  Kemaritiman dan Investasi yang telah menginisiasi program, Work From Bali sebagai upaya membantu Bali dari keterpurukan yang berkepanjangan. Besar harapan saya program ini dapat mengurangi ketertinggalan Bali dari provindi-provinsi lainnya di Indonesia,” jelasnya. *dik

BAGIKAN