Galungan, Harga Babi di Tabanan Berpotensi Tembus Rp 40 Ribu Per Kg  

Harga babi di tingkat peternak berpotensi akan menembus level Rp 40.000 per kg pada hari raya Galungan yang jatuh pada 16 September mendatang.

PETERNAKAN - Sejumlah peternak babi di Tabanan mulai mencoba kembali mengisi kandang.

Tabanan (bisnisbali.com) –Harga babi di tingkat peternak berpotensi akan menembus level Rp 40.000 per kg pada hari raya Galungan yang jatuh pada 16 September mendatang. Betapa tidak, saat ini harga babi diperdagangkan sudah naik menjadi Rp 38.000 per kg bahkan ada mencapai Rp 40.000 per kg. Kemungkinan nanti seiring melonjaknya permintaan terkait hari raya akan membuat harga babi ini kembali melonjak.

“Saat ini dengan permintaan pasar yang cenderung turun, tetap membuat harga babi di pasaran naik signifikan. Apalagi nanti, ketika Galungan yang dibarengi juga dengan melonjaknya permintaan, kemungkinan akan berdampak pada berlanjutnya kenaikan harga babi,” tutur peternak babi di Tabanan sekaligus Wakil Ketua Gabungan Usaha Peternak Babi (Gupbi) Bali, I Nyoman Ariadi, Jumat (14/8) kemarin.

Menurutnya, saat ini populasi babi di Tabanan sudah jauh menurun, hanya menyisakan sekitar 6 ribuan ekor saja. Kondisi tersebut yang sekaligus membuat harga babi di tingkat peternak yang sebelumnya sempat anjlok sebagai dampak suspect ASF, kini harganya sudah melonjak signifikan. Kini harga babi di tingkat peternak diperdagangkan di level Rp 38.000 per kg, dan malah ada yang membanderol di level Rp 40.000 per kg saat ini. “Artinya ada kemungkinan harga babi pada Galungan nanti akan menembus level Rp 40.000 per kg,” ujarnya.

Perbekel Desa Sudimara ini mengungkapkan, penurunan populasi babi ini selain dampak suspect ASF, kondisi tersebut juga disebabkan oleh kalangan peternak yang masih belum berani untuk kembali mengusahakan beternak babi karena risiko dampak suspect ASF ini masih jadi ancaman saat ini. Meski begitu, kini ada juga sejumlah peternak yang mulai mencoba-coba untuk mengisi kandang, namun dalam jumlah yang terbatas dan hasilnya ada yang masih selamat hingga kini, ada juga babi yang diusahakan mati.

“Kalau saya, saat ini sudah coba 20 ekor dulu. Mudah-mudahan selamat dan untuk mencegah kematian, saya lakukan sterilisasi kandang dengan disinfektan berkali-kali,” tandasnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, kini untuk memulai kembali beternak babi juga tidak murah. Sebab, di tengah naiknya harga babi siap potong, hal sama juga terjadi pada harga babi untuk jenis bibit yang naik signifikan saat ini. Sebab, jika sebelumnya harga bibit babi ini naik menjadi Rp 600.000 per ekor, dari posisi Rp 400.000 per ekor sebelumnya atau di saat tingginya angka kematian babi secara mendadak. Kini di tengah mulai meredanya kasus kematian babi secara mendadak telah memposisikan harga jual bibit ke level Rp 700.000-Rp 800.000 per ekor sesuai dengan ukuran berat.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Tabanan, I Nyoman Budana mengungkapkan, guna mendorong peningkatan populasi babi di Tabanan rencana akan dibantu dengan Pagu Indikatif Kecamatan (PIK). Bantuan PIK ini bentuknya bisa berupa bibit babi dan jumlahnya nanti akan disesuaikan dengan kebutuhan kelompok yang mengajukan, sehingga kemungkinan masing-masing besaran bantuan di kelompok tidak sama. “Bantuan PIK ini akan diberikan apabila wabah penyebab kematian babi sudah menghilang, dan tingkat kematiannya sudah tidak tinggi lagi,” ujarnya. *man

BAGIKAN