Festival Jatiluwih Dirancang ’’Offline’’

Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih merancang kegiatan festival dengan konsep offline yang rencananya digelar September mendatang.

FESTIVAL - Tari Rejang Kesari Massal saat acara festival Jatiluwih 2019 di D’Uma Jatiluwih.

Tabanan (bisnisbali.com) –Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih merancang kegiatan festival dengan konsep offline yang rencananya digelar September mendatang. Festival Jatiluwih ini menjadi salah satu dari enam kegiatan yang diajukan Dinas Pariwisata Tabanan ke Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) pada tahun ini.

Manajer Operasional DTW Jatiluwih, I Nengah Sutirtayasa, Rabu (24/3) mengungkapkan, tahun ini ajang Festival Jatiluwih atau event promosi yang sudah menjadi agenda rutin tahunan sedang diajukan ke Menparekraf untuk dikaji. Meski masih tahap kajian, tentunya untuk rancangan konsep ajang festival akan mengikuti prosedur dari Kementerian dan salah satunya adalah kegiatan festival diselenggarakan secara offline.

“Secara umum dari pemaparan terkait rancangan pelaksanaan festival nanti, Kementerian Pariwisata menentukan prosedur kegiatan festival dilaksanakan secara offline. Di sana tentunya ada sebuah kebiasaan baru yang harus diterapkan dan ketentuan protokol CHSE yang harus dilakukan di tengah pademi,” tuturnya.

Konsep Festival Jatiluwih nanti adalah memperkenalkan alam sebagai sumber kehidupan. Tentunya itu berhubungan dengan air yang menjadi simbol sumber kehidupan dan akan ditopang juga dengan budaya atau kearifan lokal yang ada di Jatiluwih. Festival akan melibatkan sejumlah kesenian. Tapi karena pandemi, kegiatan yang mewarnai festival nanti tidak lagi dilakukan secara kolosal, namun digelar dengan melibatkan peserta dalam jumlah terbatas.

“Kearifan lokal ini tidak menutup kemungkinan akan memasukkan kegiatan atau aktivitas petani di sawah, jika bertepatan dengan musim panen nantinya,” ungkap Sutirtayasa.

Saat ini pengajuan untuk penyelenggaraan Festival Jatiluwih ini masih tahap presentasi. Setelah itu, baru ada keputusan dari Menparekraf untuk kepastian penyelenggaraan Festival. Harapannya, bila disetujui oleh Menparekraf kegiatan Festival Jatiluwih ini bisa diselenggarakan pada September mendatang atau sama seperti waktu kegiatan sebelumnya sebagai agenda tahunan.

Kegiatan festival ini tentunya berpotensi akan berdampak positif bagi kondisi objek wisata yang telah setahun minim pemasukan akibat dampak pandemi Covid-19. Meski bantuan yang diberikan oleh Menparekraf untuk kegiatan festival ini tidak besar, namun bantuan tersebut setidaknya akan memicu perputaran atau geliat ekonomi di masyarakat Jatiluwih yang sebagian besar adalah petani.

“Sebenarnya yang kami harapkan tidak mutlak mengacu pada berapa besar mengeluarkan dana. Tapi terpenting adalah berapa persen dari dana yang masuk itu bisa berdampak untuk masyarakat lokal di Jatiluwih terutama para petani yang mencapai 547 KK saat ini,” tandasnya. *man

BAGIKAN