FCC Ditunda, Pelaku Pariwisata Harapkan Border Internasional Segera Dibuka

Meski ada kekecewaan pelaku pariwisata dengan ditundanya pelaksanaan Free Covid-19 Corridor (FCC) di Bali, kebijakan tersebut dimaklumi mengingat situasi yang belum memungkinkan.

SEPI - Suasana malam hari di Ground Zero, Kuta. Semenjak pandemi Covid-19, Kuta sepi dari wisatawan.

Denpasar (bisnisbali.com) –Meski ada kekecewaan pelaku pariwisata dengan ditundanya pelaksanaan Free Covid-19 Corridor (FCC) di Bali, kebijakan tersebut dimaklumi mengingat situasi yang belum memungkinkan. Namun, diharapkan ada kepastian segera dibukanya keran pariwisata mancanegara yang menjadi sumber penggerak industri pariwisata Bali.

Pengelola salah satu resort di Bali, Wayan Parka, Rabu (17/2) kemarin, mengaku sadar akan kebijakan FCC di Bali tidak hanya berasal dari satu kementerian, melainkan harus tetap bersinergi dengan kementerian lainnya untuk membuka border internasional. “Apa pun aturannya, nantinya yang akan diimplementasikan sedikit tidaknya ada setitik harapan yang terbuka untuk kita semuanya di industri pariwisata. Tidak seperti sekarang yang tidak ada harapan yang lebih konkret,” ungkapnya.

Pihaknya belum mengetahui secara pasti skema FCC. Namun diharapkan program tersebut bisa membantu industri pariwisata Bali untuk pulih.

Hal senada diungkapkan pengelola resort lainnya, I Wayan Sumandia. Dia mengatakan, dibukanya border internasional menjadi satu-satunya harapan pariwisata Bali. Selaku pengelola, ia mengaku sangat sulit dengan kondisi ini.

“Seandainya hal ini terjadi terus dalam dua atau tiga bulan ke depan, saya yakin akan banyak lagi hotel-hotel yang akan tutup karena kami sudah tidak memiliki cadangan apa-apa untuk bisa tetap bertahan membiayai operasional. Walaupun sebenarnya dari tahun 2020 tidak sedikit usaha pariwisata yang sudah gulung tikar dan stop operasionalnya,” ungkap Sumandia.

Pihaknya sudah melakukan semua kiat dan cara untuk melakukan promosi agar tetap bisa bertahan dan memberikan sedikit penghasilan untuk karyawan. Mulai dari menurunkan harga kamar sebanyak 70 persen sampai 75 persen dari harga normal, membuat paket murah mulai dari paket staycation, paket berenang, paket spa dan banyak lagi.

Namun karena sasaran paket tersebut hanya wisatawan lokal dari Bali maka permintaan tidaklah sama seperti wisatawan mancangera. Di sisi lain, situasi perekonomian terutama di Bali juga sangat terpuruk, sehingga promosi yang dilakukannya pun tidak memiliki hasil yang maksimal. *wid

BAGIKAN