Entaskan Kemiskinan Perlu ”Recovery” Ekonomi Kongkret

Garis kemiskinan tidak dipungkiri akan terus meningkat seiring bertambahnya angka pengangguran akibat pandemi covid-19 yang berimbas pada penurunan pertumbuhan ekonomi.

Denpasar (bisnisbali.com) –Garis kemiskinan tidak dipungkiri akan terus meningkat seiring bertambahnya angka pengangguran akibat pandemi covid-19 yang berimbas pada penurunan pertumbuhan ekonomi. Untuk itu, dalam upaya mengentaskan kemiskinan yang terjadi saat ini memerlukan adanya langkah kongkret. Salah satunya terciptanya lapangan usaha baru.

“Pemerintah perlu segera melakukan langkah recovery ekonomi utama menciptakan lapangan kerja untuk mengentaskan kemiskinan,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Bali Bidang Fiskal dan Moneter, IB Kade Perdana di Renon, Kamis (23/7) kemarin.

Ia mengatakan, bila tidak segera diambil langkah-langkah kongkret mengatasi masalah tersebut, maka tidak tertutup kemungkinan kemiskinan di Bali bisa mencapai di atas dua digit. Keadaan ini sudah pasti akan bisa menimbulkan kerawanan sosial dan berpengaruh buruk terhadap kepariwisataan Bali yang kondisinya yang sudah terpuruk akan makin menjadi bertambah kelam.

Diakui IB Kade, pandemi covid 19 merupakan suatu malapetaka yang langsung mengancam keselamatan jiwa manusia pada saat bersamaan membuat perekonomian terpuruk menuju resesi ekonomi dan paling dikhawatirkan bila berlangsung lama akan menuju jurang depresi ekonomi. Terlebih, pertumbuhan ekonomi Bali yang negatif dari biasanya selalu positif di atas 5 persen bahkan selalu di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.

“Dengan kondisi ekonomi yang menciut demikian hebatnya, semoga tidak membuat nyali mengkerut menghadapi dampak bertambahnya kemiskinan yang tidak terelakkan,” ujarnya.

Mantan Dirut Bank Sinar Harapan Bali ini menerangkan, Presiden Jokowi saat ini menggelontorkan Rp405,1 triliun untuk perlindungan sosial dan stimulus ekonomi menghadapi dampak covid-19. Jumlah tersebut terdiri atas Rp75 triliun untuk bidang kesehatan, Rp110 triliun untuk social safety net, Rp70,1 triliun untuk insentif perpajakan dan stimulus KUR hingga Rp150 triliun untuk pemulihan ekonomi nasional (termasuk restrukturisasi kredit dan penjaminan serta pembiayaan untuk UMKM dan dunia usaha).

“Paling tidak stimulus fiskal sampai dengan akhir Agustus 2020 sudah harus mencapai realisasi secara efektif minimal 75 persen dari total anggaran yang tersedia,” jelasnya.

Bila Bali mampu meraih dan mendapatkan bagian dana sebesar itu, menurut IB Kade, bila pemanfaatan berjalan dengan baik positif kondusif efisien dan efektif diyakini perekonomian Bali segera bisa recovery. Pertama-tama digelontorkan bansos untuk masyarakat miskin dan para penggangguran dengan dana sosial safety net serta membantu permodalan para UMKM sesuai syarat-syarat khusus yang lunak melalui anggaran untuk insentif perpajakan dan stimulus KUR serta anggaran pemulihan ekonomi nasional.

Membuka aktivitas kepariwisataan dan kegiatan ekonomi lainnya tetap harus disiplin mengikuti protokol kesehatan. “LPD dan BPD Bali secara finansial harus mampu berperan terdepan dan menjadi motor penggerak serta membangkitkan aktivitas UMKM yang paling awal terpuruk,” sarannya.

Caranya dengan memberikan pinjaman lunak dalam interes maupun dalam persyaratan bank tehnis sejalan dengan adanya pelonggaran kebijakan moneter dari BI melalui elemen politik diskonto berupa penurunan bunga acuan dan giro wajib minimum. Skenario lainnya, Bali yang terdiri atas 8 kabupaten dan 1 kota madya, bersama Gubernur Bali harus bersatu padu menangani covid-19 dan membangkitkan atau melonggarkan aktivitas sosial, pertanian, industri kerajinan rakyat dan perdagangan  dengan disiplin melakukan protokol kesehatan agar perekonomian bisa bangkit dan bergerak.

Itu untuk mencegah kemungkinan terjadi resesi berlangsung lama dan jangan sampai timbul depresi ekonomi. “Bila perlu Gubernur berkantor di kabupaten atau kota setiap seminggu sekali secara bergiliran dalam upaya bersama-sama memecahkan masalah covid 19 dan mencari solusi serta bergerak bersama sama membangun kembali perekonomian Bali,” sarannya.

Dengan cara kebersamaan membangun kembali perekonomian Bali, ia berharap pertumbuhan ekonomi kisaran 7 persen akan dapat diraih sehingga pengangguran dan kemiskinan dapat kembali ditekan serendah mungkin.

“Berarti Bali bisa terhindar dari pertumbuhan negatif atau  kontraksi secara berkelanjutan,” ucap Kade Perdana. *dik

BAGIKAN