Ekspor Bali ke Tiongkok Dipastikan Turun  

Kabid Perdagangan Luar Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, Ir. Ni Wayan Lestari, M.M., Rabu (5/2) di ruang kerjanya mengatakan ekspor Bali ke Tiongkok dipastikan akan anjlok, pascaditutupnya penerbangan ke negara tersebut akibat merebaknya virus corona.

Denpasar (bisnisbali.com) –Kabid Perdagangan Luar Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, Ir. Ni Wayan Lestari, M.M., Rabu (5/2) di ruang kerjanya mengatakan ekspor Bali ke Tiongkok dipastikan akan anjlok, pascaditutupnya penerbangan ke negara tersebut akibat merebaknya virus corona.

Potensi besar ekspor ke Tiongkok yang menempati peringkat ke empat, dipastikan akan menurun drastis. Ekspor pada 2018, Tiongkok menduduki peringkat terbesar ke empat negara tujuan ekspor Bali  sebesar 58 juta US Dollar, setelah  Amerika Serikat yaitu 254 juta US Dollar lebih, Australia  124 juta US Dollar lebih dan Jepang senilai 98 juta US Dollar lebih.

Ekspor dikatakan mengalami lonjakan pada 2018 karena dibukanya ekspor manggis. “Jadi sebenarnya ekspor buah – buahan tahun lalu cukup besar ke Tiongkok mencapai 12 juta US Dollar lebih. Data sementara pada 2019   yaitu 8 juta US Dollar lebih,” ungkap Lestari.

Tapi komoditi ekspor ke Tiongkok selain buah – buahan  sangat beragam seperti perikanan, tekstil, kerajinan dan lainnya. Berdasarkan data dari tahun 2017 berdasarkan  surat keterangan asal (SKA) yang dikeluarkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali ekspor ke Tiongkok dari 2017 ke 2018 ada peningkatan sekitar 41, 14%. Sedangkan dari 2018 ke 2019 itu mengalami penurunan hampir 38%.

“Kalau kita lihat ekspor ke Tiongkok 2017 mencapai 41 juta US Dollar lebih, 2018 itu hampir mencapai 58 juta US Dollar. Untuk 2019 datanya masih bergerak karena kita masih melakukan pendataan secara manual karena sistemnya belum ada, baru 36 juta US Dollar,” paparnya.

Dengan adanya kasus virus Corona ini, apalagi akses penerbang ke Tiongkok ditutup maka otomatis ekspor ke Tiongkok ikut terhenti untuk sementara. “Ekspor ke Tiongkok ini rata – rata menggunakan akses udara dan hanya dalam jumlah kecil yaitu 0,30 persen melalui laut. Apalagi untuk ekspor buah – buahan semuanya melalui udara karena tiba di negara tujuan buah lebih segar dan tidak perlu menggunakan bahan pengawet,” ungkapnya.

Biasanya Januari, Februari dan Maret merupakan puncak ekspor buah – buahan ke Tiongkok, karena Maret pas puncak musim manggis (panen raya). Jadi dengan disetopnya penerbangan maka akan sangat berpengaruh terhadap ekspor Bali ke Tiongkok. “Jadi kita kehilangan potensi besar ekspor buah manggis ke Tiongkok pada Januari, Februari dan Maret ini. Sehingga sejumlah eksportir juga mengeluarkan kondisi ini, karena buah manggis sangat diminati dan begitu sampai di negara tujuan langsung habis terjual,” katanya.

Dengan tertutupnya pintu ekspor ini, dikhawatirkan akan berdampak pada  terjun bebasnya harga manggis di pasar lokal akibat kelebihan pasokan. “Para pengusaha ini juga berupaya untuk mencari pasar lain, selain Tiongkok. Tapi pasar terbesar memang di sana,” tukasnya.

Sementara terkait impor dari Tiongkok dikatakan dari tahun ke tahun selalu mengalami penurunan, karena impor memang sesuai dengan kebutuhan. “Kita lihat dari 2018 ke 2019 juga mengalami penurunan. 2018 hampir 9 juta dolar AS pada 2019 hanya 7 juta dolar AS ini data yang kami peroleh dari mereka yang melakukan impor karena quota impor itu dari kementerian sehingga kemungkinan tidak keseluruhan terdata,” ucapnya. Jenis impor dari Tiongkok juga beragam yang terbesar seperti t-shirt dan tas.

 “Ya untuk saat ini kita hanya bisa berdoa, virus corona ini bisa segera teratasi dan tidak memakan waktu lama. Setidaknya sebelum Maret yang merupakan puncak musim manggis, ekspor sudah bisa dilakukan lagi,” pungkasnya. *pur

BAGIKAN