Dua Pura di Tabanan Diajukan Jadi Cagar Budaya

Tahun ini Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Tabanan kembali mengajukan dua pura untuk ditetapkan sebagai cagar budaya.

I Gusti Ngurah Supanji

Tabanan (bisnisbali.com) –Tahun ini Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Tabanan kembali mengajukan dua pura untuk ditetapkan sebagai cagar budaya. Usulan tersebut didasari telah terpenuhinya syarat sebagai cagar budaya, salah satunya usia pura yang sudah mencapai ratusan abad.

Kepala Dinas Kebudayaan Tabanan I Gusti Ngurah Supanji mengungkapkan, dua pura yang diajukan menjadi cagar  budaya adalah Pura Batu Belig di Desa Rejasa, Kecamatan Penebel, dan Pura Natar Jemeng di Desa Baru, Kecamatan Marga. Dua pura ini diusulkan menjadi cagar budaya sesuai penilaian sementara tim inventarisasi karena memenuhi syarat. Di antaranya kedua pura ini sudah berusia ratusan abad, masih tetap berfungsi di bidang keagaman serta memiliki kekhasan tertentu yang merupakan ciri budaya Tabanan. “Contohnya seperti ada peninggalan megalitikum. Inilah nanti yang akan kami kaji dengan tim ahli,”  tuturnya,  Kamis (3/6) kemarin.

Saat ini di Kabupaten Tabanan sudah enam pura yang ditetapkan sebagai cagar budaya dari jumlah 368 yang diduga cagar  budaya. Keenam pura tersebut seluruhnya berada di kawasan Catur Angga Warisan Budaya Dunia. Pura dimaksud adalah Pura Luhur Batukau di Desa Wongaya Gede, Pura Luhur Tamba Waras di Desa Sangketan, Pura Luhur Muncak Sari di Desa Sangketan, Pura Luhur Besi Kalung di Desa Babahan, Pura Luhur Petali di Desa Jatiluwih (Kecamatan Penebel)  dan Pura Luhur Sekartaji di Desa Sesandan (Kecamatan Tabanan).

Pengusulan dua pura sebagai cagar budaya masih berproses pada tahap pengurusan kelengkapan pemberkasan tim verifikasi tim cagar budaya Disbud Tabanan. Setelah proses pemberkasan selesai diverifikasi, berkas akan diajukan ke tim ahli cagar budaya untuk disidangkan. “Jika tidak ada halangan  kemungkinan Juli mendatang dua pura ini disidangkan dan ditetapkan menjadi cagar budaya tingkat Kabupaten Tabanan,” tegas Supanji.

Ketika pura yang diajukan ditetapkan sebagai cagar budaya, maka ada hak dan kewajiban yang didapat. Haknya, pangempon pura ada kebanggan bahwa puranya sudah mendapat pengakuan, sedangkan dari segi kewajiban tentu pangempon pura harus melindungi dan melestarikan pura tersebut.  “Ketika ada perubahan di situs cagar budaya ini, pangempon harus melaporkan ke Disbud. Bila pangempon merusak atau menghilangan syarat menjadi cagar budaya di pura bersangkutan, status cagar buaya bisa dikaji kembali untuk dihapus,” jelasnya.

Selain mengusulkan cagar budaya, Disbud Tabanan terus menelusuri subjek untuk bisa ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Salah satunya yang sedang proses kajian akademik adalah jukut gonda dan teh beras merah. “Kami ajukan ini dari sisi kuliner yang merupakan kekhasan Kabupaten Tabanan,” tambahnya. *man

BAGIKAN