Dua Kecamatan di Tabanan Miliki Potensi Kembangkan Tanaman Herbal  

Dampak masuknya corona (covid-19) ke Indonesia, berbagai jenis tanaman jamu alias herbal diburu masyarakat. Seiring dengan itu, harga jualnya pun melonjak tajam.

Tabanan (bisnisbali.com) –Dampak masuknya corona (covid-19) ke Indonesia, berbagai jenis tanaman jamu alias herbal diburu masyarakat. Seiring dengan itu, harga jualnya pun melonjak tajam. Di Kabupaten Tabanan sebagai daerah lumbung pangan Bali juga memiliki potensi akan budi daya tanaman herbal yang dikembangkan di dua kecamatan saat ini.

Kepala Bidang Peningkatan Produksi Tanaman Pangan dan Hortikulutra Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, Wayan Suandra,  mengungkapkan, saat ini Tabanan juga sebagai salah satu daerah penghasil tanaman herbal dan potensinya cukup luas. Sayangnya, potensi yang luas tersebut belum dibarengi dengan tingginya animo petani untuk membudidayakan tanaman herbal ini. Sebab, pertimbangan sejumlah petani adalah masih ada ketakutan untuk mencoba membudidayakan tanaman herbal, mengingat pangsa pasar tidak sebesar dibandingkan dengan komoditi pertanian lainnya.

“Ketakutan petani ini diperparah lagi dengan pengalaman sebelumnya. Salah satunya sejumlah investor yang pernah menawarkan kerja sama dengan mengajak petani untuk menanam kapulaga dan berjanji akan membeli hasil panen. Ternyata, setelah petani ini panen, investor tersebut tidak menepati janji. Hal hasil petani ini jadi trauma,” tuturnya.

Bercermin dari kondisi tersebut, jelas Suandara, pihaknya juga tidak berani terlalu memaksakan untuk pengembangan tanaman herbal. Meski begitu, katanya, jika ada petani yang serius ingin membudidayakan tanaman herbal ini, pihaknya pasti akan menjembatani.

Di sisi lain, sambungnya, untuk pengembangan tanaman herbal yang ada di Kabupaten Tabanan, yakni tanaman jahe gajah dan jahe merah dikembangkan di Kecamatan Penebel dan Kecamatan Marga. Paparnya, di Penebel pengembangan budi daya jahe ini ada di Desa Jegu dan Marga dikembangkan di Desa Tua dengan masing-masing mencapai 10 hektar.

“Pengembangan jahe gajah dan jahe merah di dua daerah tersebut merupakan bantuan dari pemerintah pusat yang dimulai pada 2019 lalu,” ujarnya.

Pada 2020, terangnya, bantuan yang sama dari pemerintah pusat juga kembali digelontorkan dengan luas 20 hektar. Rencananya, bantuan tersebut masih disalurkan ke dua kecamatan yakni Penebel dan Marga mengingat potensinya ada di daerah tersebut. Katanya, tujuan dari bantuan pengembangan bibit jehe ini merupakan program pemerintah pusat dalam rangka ikut menopang produksi tanaman obat nasional.

“Selain itu, program pusat ini juga untuk produksi bibit yang tujuannya untuk keberlanjutan produksi dari tanaman herbal ini,” tandasnya.

Salah seorang petani jahe sekaligus penerima bantuan bibit dari program pemerintah pusat, I Made Jirnawan, Banjar Cau, Desa Tua, Kecamatan Marga, mengungkapkan, saat ini belum bisa menikmati lonjakan harga seiring dengan meningkatnya permintaan pasar terhadap jahe gajah maupun jahe merah ini. Sebab, saat ini tanaman masih belum siap panen.

“Meski begitu dengan naiknya harga salah satu tanaman bumbu-bumbuan ini, kami menjadi makin bergairah bertani jahe. Khususnya jahe merah, mengingat harganya cukup menjanjikan atau lebih mahal dari jahe gajah,” kilahnya. *man

BAGIKAN