DTW Tanah Lot Sepi Wisatawan, Fotografer Kebanyakan Nongkrong, Beberapa Banting Setir Jadi Petani

Pandemi Covid-19 dan kebijakan pelarangan mudik atau pulang kampung terkait momen Lebaran berdampak bagi fotografer keliling atau tukang foto di kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Tanah Lot.

TUNGGU - Sejumlah tukang foto menunggu kedatangan wisatawan di kawasan DTW Tanah Lot.

Tabanan (bisnisbali.com)  –Pandemi Covid-19 dan kebijakan pelarangan mudik atau pulang kampung terkait momen Lebaran berdampak bagi fotografer keliling atau tukang foto di kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Tanah Lot. Pasalnya, pendapatan tukang foto di kawasan wisata yang mengandalkan keindahan pura di tengah pantai ini menurun tajam.

Sebelumnya, kawasan DTW Tanah Lot biasanya ramai didatangi wisatawan sehingga membuat kantong-kantong parkir di sekitar kawasan selalu dipadati kendaraan bus dan mobil pribadi berpelat nomor dari luar Bali. Akan tetapi kini di tengah pandemi dan pelarangan mudik membuat DTW Tanah Lot terlihat lengang dari aktivitas wisatawan yang datang.

Dari pantauan, tampak sejumlah tukang foto menunggu wisatawan yang datang. Tidak jarang hingga siang mereka belum mendapatkan order dari wisatawan yang ingin berfoto di seputaran kawasan Tanah Lot.

Salah satu tukang foto di DTW Tanah Lot, Wayan Sugiama, Minggu (9/5) kemarin, mengungkapkan  pandemi dan adanya kebijakan pelarangan mudik sangat berdampak bagi aktivitasnya di kawasan ini. Sebab, saat ini ini dirinya dan rekan-rekannya hanya mengandalkan wisatawan domestik. Di sisi lain, kalangan tersebut dibatasi dengan adanya pelarangan mudik menjelang Lebaran. Kondisi tersebut membuat omzet tukang foto keliling turun drastis.

Biasanya sebelum pandemi mereka rata-rata mendapat pesanan minimal 10 kali per hari dengan harga foto mencapai Rp 20 ribu per jepretan. Akan tetapi sekarang setelah lebih dari 10 tahun menggeluti profesi sebagai tukang foto di kawasan Tanah Lot, kadang hanya mendapatkan order tiga kali. Bahkan, sering dalam sehari tidak mendapat pesanan jasa foto sama sekali karena jumlah wisatawan yang sedikit. “Karena minim kunjungan wisatawan, akhirnya aktivitas para tukang foto keliling di Tanah Lot kebanyakan hanya nongkrong,” jelasnya.

Jumlah tukang foto keliling di DTW Tanah Lot sekitar 170 orang yang dibagi menjadi dua grup. Masing-masing grup bergiliran menawarkan jasa foto setiap harinya, sehingga jumlahnya tidak terlalu banyak. Seiring waktu terlebih akibat dampak pandemi, jumlah tukang foto pada masing-masing grup tidak semuanya memanfaatkan giliran untuk menawarkan jasa ke wisatawan. “Satu grup  paling hanya 60 orang yang masih aktif  dan itu pun tidak pasti. Karena sepinya tamu, sejumlah tukang foto bekerja sebagai petani. Ada juga baru setengah hari baru datang ke kawasan untuk memanfaatkan giliran,” ujarnya.

Sejumlah tukang foto keliling yang banting setir menjadi petani dan memiliki lahan pertanian, kini lebih fokus menggarap lahan. Sementara menawarkan jasa foto yang sebelumnya sebagai pekerjaan utama kini berganti hanya sebagai pekerjaan sambilan. “Saya selain tukang foto juga membantu orangtua di sawah dan bekerja sebagai tukang kebun di kawasan DTW Tanah Lot,” imbuh Sugiama. *man

BAGIKAN