Dispar Tabanan Dorong Munculnya Destinasi Baru

Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Tabanan akan mendorong pertumbuhan tempat tujuan atau destinasi baru sebagai tempat wisata.

PANTAI CINTA - Pantai Cinta di Kecamatan Kediri, Tabanan, menjadi destinasi baru yang banyak dilirik wisatawan.

Tabanan (bisnisbali.com) –Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Tabanan akan mendorong pertumbuhan tempat tujuan atau destinasi baru sebagai tempat wisata. Upaya tersebut salah satunya dengan melirik sejumlah lahan tidur yang tak terpakai, namun memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata.

Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Tabanan I Gede Sukanada mengungkapkan,  tahun ini kemunculan destinasi baru akan makin didorong. Upaya ini dalam rangka terus menggeliatkan sektor pariwisata di Kabupaten Tabanan di tengah kunjungan yang hanya mengandalkan wisatawan domestik (wisdom) dan masyarakat lokal. Saat ini destinasi baru yang sudah berhasil menarik perhatian wisatawan adalah Pantai Cinta yang merupakan pengembangan dari wisata Pantai Kedungu di Banjar Kedungu, Desa Belalang, Kecamatan Kediri.

“Pantai Cinta ini muncul dari inisiatif dari sejumlah pekerja di sektor pariwisata yang menjadi korban PHK dan kemudian membentuk paguyuban. Mereka difasilitasi Perbekel Belalang untuk membuat destinasi baru,” tuturnya, Senin (4/1) kemarin.

Bercermin dari keberhasilan itu, daerah lain yang memiliki potensi untuk membuat destinasi baru juga akan terus didorong. Sebab, pembentukan destinasi baru searah dengan protokol pencegahan pandemi Covid-19. Adanya destinasi baru akan mampu memecah kerumunan atau berkumpulnya banyak orang di destinasi wisata yang sudah ada sebelumnya.

Menurutnya, potensi untuk munculnya destinasi baru di Kabupaten Tabanan cukup banyak. Ia memperkirakan di sepanjang pinggir pantai di antaranya mulai dari daerah Belalang, Pangkuh Tibah, Selemadeg, hingga daerah Soka banyak lahan tidur yang sangat berpeluang dimanfaatkan sebagai destinasi baru seiring potensi yang dimiliki.

Pihaknya bersama Sekda Tabanan sudah menanyakan status sejumlah lahan tidur tersebut. Kalau dalam jangka panjang tidak difungsikan, kenapa  tidak optimalkan melalui desa adat setempat sebagai pengelola. Pengelolaan tersebut akan memberi pendapatan bagi desa adat karena sesuai dengan pangsa pasar wisatawan yang hanya mengandalkan kunjungan domestik dan masyarakat lokal. *man

BAGIKAN