Diskusi Kreatif untuk Generasi Muda, Baca Peluang pada Era 4.0

Generasi muda Bali khususnya Denpasar memiliki banyak peluang untuk menciptakan kreativitas yang akhirnya bermuara pada peningkatan perekonomian.

KREATIF - Kegiatan Kreatif Talk 4.0 mengisi agenda di Dharma Negara Alaya dibuka Kadis Pariwisata Denpasar Dezire Mulyani didampingi Kabid Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif I Wayan Hendaryana.

Denpasar (bisnisbali.com) –Generasi muda Bali khususnya Denpasar memiliki banyak peluang untuk menciptakan kreativitas yang akhirnya bermuara pada peningkatan perekonomian. Namun hal tersebut butuh terus dibangkitkan dengan berbagai cara, seperti halnya talkshow yang digelar dinas pariwisata dan Badan Kreatif Denpasar yang membahas crative talk 4.0.

Kegiatan yang diikuti oleh para pemuda baik dari akademisi, mahasiswa,  seniman hingga sekaa teruna, menghadirkan empat sosok anak muda kreatif Denpasar, di antaranya Mamar Herayukti, Kedux, Duwi Arsana, dan Arya Brata berlangsung di ruang Teater Taksu Dharma Negara Alaya.

Kadis Pariwisata Dezire Mulyani saat membacakan sambutan Wali Kota Denpasar mengatakan Bali khususnya Denpasar memikiki potensi besar di era ini. Sehingga Pemkot Denpasar sangat fokus pada ekonomi kreatif mendukung aktivitas generasi muda. Banyak ruang publik dapat dimanfaatkan pemuda Denpasar seperti Youth Park, Skate Park hingga Dharma Negara Alaya.

Pembahasan awal Marmar Herayukti selaku seniman ogoh-ogoh dari Banjar Gemeh Denpasar menyampaikan, pada era industri 4.0 mampu membawa hal kreatif pada tiap bidang yang digeluti serta memberikan dampak perekonomian. Seperti pada kreativitas ogoh-ogoh yang mampu  memberikan dampak perekonomian.

Dijelaskannya, perkembangan dalam pembuatan ogoh-ogoh terus mengalami perubahan hingga masuk pada penggunaan stayrofoam yang sangat mempengaruhi kesehatan. “Dari tantangan ini kami bersama sekaa teruna mencoba kembali pada kearifan lokal yakni ulat-ulatan serta diterima kembali dan sudah menjadi sebuah industri kreatif. Dampak ini pula berpengaruh pada penggiat ulat-ulatan mulai kembali bergairah serta para penggiat seni Bali menampilkan ulat-ulatan diterima dengan baik khalayak banyak,” ujarnya.

Sementara itu,  Kedux mengaku tantangan ada di sekitar lingkungan kita sendiri. Kreatif melihat tantangan ini dan mencurahkan pada tiap ide yang ada dengan keterlibatan tim untuk berkolaborasi.

Kreatif menurut Kedux dibagi menjadi tiga yakni kreatif murni, adopsi dan modifikasi. Pada tataran ketiga hal tersebut tidak terlepas daripada menejemen mulai dari waktu, kerja, SDM, dan keuangan. Di samping itu juga  tidak terlepas dari sistem informasi dan koordinasi. Berkolaborasi kreatif melihat peluang dan tantangan serta jangan meninggalkan identitas budaya kita sebagai generasi muda. “Semua ide, kreativitas serta berkolaborasi dalam satu balutan sistem menejemen ini mampu memberikan imbas pada sebuah kebahagiaan kita bersama untuk terus berkreativitas,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Arya Brata dan Duwi Arsana mengaku tiap kreativitas yang dihasilkan dari karya-karyanya selama ini tidak jauh dari tantangan sehari-hari yang ingin memudahkannya di tiap aktivitas. Menggali dan mengasah kreativitasnya juga tidak terlepas dari kolaborasi dan ide dari pergaulan sehari-hari. “Bentuk kebersamaan terus memacu diri dalam kreativitas dan menggali mampu memberikan dampak positif dalam sebuah karya,” ujarnya. *wid

BAGIKAN