Disiplin Terapkan Prokes, Pertumbuhan Ekonomi Diyakini Terwujud

Taat menerapkan protokol kesehatan (prokes) bagi kalangan masyarakat maupun pelaku usaha diyakini mampu menunjang pertumbuhan ekonomi di daerah ini.

MASKER - Tim gabungan melakukan penertiban penggunaan masker dengan benar di Renon, Denpasar, Jumat (18/9) kemarin. (foto/eka adhiyasa)

Denpasar (bisnisbali.com) –Taat menerapkan protokol kesehatan (prokes) bagi kalangan masyarakat maupun pelaku usaha diyakini mampu menunjang pertumbuhan ekonomi di daerah ini. Kontraksi ekonomi optimistis tidak akan terperosok dalam.

“Asalkan implementasi prokes dengan 3M yakni menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak di lapangan bagus, sinergitas solid, saya kira kontraksi ekonomi Bali tidak akan terperosok terlalu jauh,” kata praktisi ekonomi dari UNHI, Putu Krisna Adwitya Sanjaya, S.E., M.Si. di Renon, Senin (2/11) kemarin.

Menurutnya, dengan mengubah gaya hidup serta mengedepankan pola hidup sehat agar terhindar dari penyebaran virus Corona, maka lingkungan sehat, dunia usaha akan tumbuh dan pereknomian pun bisa bangkit. Pemulihan ekonomi nasional pun akan sangat tergantung pada penanganan Covid 19, terutamanya pada efektivitas implementasi penanganannya di masyarakat seperti ketataan masyarakat atau pelaku usaha dalam menjalankan dengan disiplin prokes, ketersediaan vaksin hingga stimulus fiskal.

“Aturan protokol kesehatan di masyarakat agar dipatuhi untuk kembali mendorong ekonomi dapat tercapai. Penerapan aturan protokol kesehatan harus tegas agar masyarakat patuh sehingga jumlah terpapar Covid tidak bertambah,” jelasnya.

Dikatakannya lebih lanjut, siplin menerapkan prokes menjadi penting untuk menghentikan penyebaran virus, masyarakat sehat maka ekonomi akan ikut bergerak tumbuh. Terkait info terbaru penanganan perekonomian Bali yang terjun bebas di level 10,98 persen di kuartal II tahun 2020 ini, Krisna menilai, pemerintah pusat melalui Kemenparekraf sudah memberi stimulus fiskal kepada provinsi Bali sebesar Rp 1,183 triliun untuk membantu menguatkan perekonomian Bali. “Secara umum kami melihat perekonomian Bali masih mengalami kontraksi di kisaran -9 persen sebagai imbas dari situasi pandemi Covid-19 ini,” ujarnya.

Hal itu juga dikontribusikan oleh masih stagnannya sektor pariwisata yang merupakan salah satu sektor penggerak ekonomi di Bali yang mana dalam satu dasawarsa terakhir  ekonomi Bali didominasi oleh sektor tersier dengan kontribusi pembentuknya PDRB selalu mengalami trend yang positif (meningkat).

Sektor tersier (pariwisata) sangat rentan akan goncangan seperti yang terjadi saat ini adanya Covid-19 yang langsung memberi dampak bagi perekonomian Bali. “Untuk memulihkan tentu perlu keseriusan dari semua pihak tidak hanya pada pemerintah tapi semua komponen harus ikut terlibat di dalamnya,” imbuhnya.

Lebih lanjut Krisna menyebutkan, melihat perekonomian Indonesia diperkirakan mengalami kontraksi di level -1,6 hingga -0,5 persen. Hal tersebut didasari dari terkoreksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari proyeksi sebelumnya yang dipatok di kisaran -1,1 hingga -0,2 persen. Sebagai gambaran, realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II tahun ini saja -5,32 persen, sedangkan Bali -10,98 persen.

Beberapa lembaga internasional seperti IMF, ADB , OECD bahkan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran -0,3 persen hingga -3,3 persen di tahun 2020 ini. “Indonesia masih mengalami kontraksi ekonomi walaupun tidak securam pada kuartal II kemarin dan kami prediksi ini agak sedikit membaik karena terbantu oleh membaiknya konsumsi rumah tangga,” ucapnya.*dik

BAGIKAN