Diprediksi, Ekonomi Bali Pulih Triwulan Kedua 2021

Ekonomi Bali diyakini akan mampu recovery dengan catatan terjadi sinergitas, transformasi dan inovasi.

Denpasar (bisnisbali.com) – Ekonomi Bali diyakini akan mampu recovery dengan catatan terjadi sinergitas, transformasi dan inovasi. Hal itu bisa terwujud melalui penguatan sektor-sektor lain selain pariwisata yang potensial dan perspektif seperti pertanian, UMKM dan industri kerajinan.

“Bila sektor tersebut (pertanian, UMKM dan kerajinan) mampu dimaksimalkan secara simultan dan terintegrasi, saya melihat perekonomian Pulau Dewata akan mampu recovery dengan lebih cepat,” kata praktisi ekonomi dari UNHI, Putu Krisna Adwitya Sanjaya, S.E., M.Si. di Renon, Selasa (17/11).

Dosen Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan ini memprediksi, recovery ekonomi tercepat kemungkinan dicapai pada kisaran triwulan II tahun 2021 dengan asumsi normal yakni tidak muncul kembali kasus positif Covid-19 yang masif dan penerapan protokol kesehatan dengan disiplin.

Sementara terkait adanya rencana pembukaan pariwisata bagi wisatawan mancanegara, paling cepat pada Desember yang juga merupakan salah satu periode high season (libur Natal, Tahun Baru dan lainnya), kata Krisna, itu dapat dilakukan berdasarkan pertimbangan yang matang dan tentunya harus didasari atas kajian kajian yang mendalam.

“Saya rasa pemerintah masih dalam tahap mengkajinya. Sebenarnya terdahulu Pemprov Bali telah memiliki rencana untuk membuka Bali dari sektor tersier yakni pariwisata secara bertahap yang dimulai untuk wisatawan domestik kemudian wisatawan mancanegara. Namun, pembukaan untuk kedatangan wisatawan mancanegara belum terealisasi karena surat keputusan dari Menkumham yang mengizinkan untuk masuknya orang asing ke wilayah Indonesia belum dicabut,” paparnya.

Wacana untuk membuka atau memperbolehkan kunjungan wisatawan internasional ke Bali, diakuinya, merupakan peluang sekaligus tantangan. Pertumbuhan ekonomi Bali yang telah mengalami kontraksi hingga minus 12,28 persen di triwulan III ini salah satu faktornya dikarenakan hantaman pandemi Covid-19. Struktur ekonomi Bali sangat tergantung pariwisata sehingga sektor ini sangat rentan akan isu dan gejolak. Untuk itu, dengan wacana dibukanya kembali pariwisata Bali untuk wisman, menurut dia, ini suatu peluang untuk me-revovery perekonomian.

“Kita sudah kehilangan devisa hampir Rp 77,6 triliun dari sektor ini selama 8 bulan terakhir. Jadi dengan adanya wacana tersebut yang tentunya bila diterapkan akan memberi sedikit mampu memberi stimulus,” ucapnya.

Lebih lanjut dia menegaskan, pada intinya, mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah pandemi yaitu semua pihak harus tetap optimistis, terus berkreativitas dan berkarya yang disertai dengan tetap menjalankan protokol kesehatan. Tidak terkecuali, memperluas akses pasar melalui digitalisasi dan saling berkolaborasi.*dik

BAGIKAN