Dipengaruhi Daya Beli, Aktivitas Pasar Sepi

Tidak hanya pasar-pasar besar seperti Pasar Badung dan Kumbasari yang sepi pengunjung, sejumlah pasar lainnya juga mengalami hal yang sama di tengah pandemi Covid-19 ini.

PASAR-Aktivitas di Pasar Sindu, Sanur

Denpasar (bisnisbali.com)-Tidak hanya pasar-pasar besar seperti Pasar Badung dan Kumbasari yang sepi pengunjung, sejumlah pasar lainnya juga mengalami hal yang sama di tengah pandemi Covid-19 ini. Tidak jalannya aktivitas pariwisata serta daya beli masyarakat yang melemah pun menjadi penyebab sejumlah pedagang mengatakan sepi pembeli.

Salah satunya terjadi di Pasar Sindu, Sanur. Semenjak pandemi Covid-19, Pasar Sindu memang tak pernah tutup, hanya pembeli yang surut. Beberapa pedagang yang dijumpai di Pasar Sindu, Jumat (19/6) mengaku, kondisi tak seramai sebelumnya. Bahkan ada yang menutup lapaknya kurang dari jam 9 pagi karena sudah tak ada lagi yang membeli.

Salah seorang pedagang di Pasar Sindu, Made Repin dari Pekandelan mengakui, saat ini pamasukannya turun drastis. Berbeda dengan saat sebelum pandemi. Terkadang ikan yang ia jual pun tersisa banyak, dan tak bisa dijual lagi. “Sudah sepi sekali. Meskipun ada wacana ada new normal katanya, tidak berpengaruh,” ungkapnya.

Kerugian pun sering dialaminya, sebab jika ikan yang dijualnya tidak habis, maka dia tidak bisa menjual kembali. Dia pun terpaksa memasak sendiri ikan-ikannya atau bahkan membuang karena sudah rusak.

Senada dengan itu, pedagang sayur asal Bedugul, Tabanan, Nengah Sueca juga mengatakan hal yang sama. Bahkan ia yang berjualan dengan sang istri mengaku tidak jarang kerugian hingga Rp 100.000 per hari dialaminya. Sayur-sayur segar yang ia bawa dari Bedugul akhir-akhir ini tak habis terjual. Biasanya sayurnya selalu habis bahkan sebelum jam 8 pagi.

Mereka yang sebelumnya juga mengirimkan sayuran untuk pasokan di beberapa vila yang ada di Sanur, namun karena vila yang biasanya menjadi langganan telah tutup, mereka hanya mengandalkan penjualan di pasar. “Sepi, sebelumnya normal. Sekarang jam 7 udah gak ada yang belanja. Rugi setiap hari bisa sampai Rp 100.000,” terangnya.

Sejak pandemi, diakuinya penjualannya turun drastis. Dengan keadaan ini dirinya pun hanya bisa pasrah dan berharap kondisi bisa kembali normal seperti sedia kala terutama bangkitnya pariwisata di Bali. *wid

BAGIKAN