Dihantui Serangan Hama, Kadistan Tabanan Yakin Ketahanan Pangan masih Terjaga

Serangan hama yang menghantui sektor pertanian padi di Kabupaten Tabanan dengan telah merusak 441 hektar sawah, diyakini Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan I Nyoman Budana masih membuat ketahanan pangan di Tabanan terjaga di tengah pandemi corona (covid-19).

Pengendalian penyakit blast di Subak Gubug l Desa Sudimara, Tabanan.

Tabanan (bisnisbali.com) –Serangan hama yang menghantui sektor pertanian padi di Kabupaten Tabanan dengan telah merusak 441 hektar sawah, diyakini Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan I Nyoman Budana masih membuat ketahanan pangan di Tabanan terjaga di tengah pandemi corona (covid-19). Meski begitu, pihaknya menghimbau petani agar menjaga sanitasi lingkungan dan menempuh jalur niskala sebagai upaya pengendalian hama.

“Serangan hama memang berdampak pada produksi padi, namun itu kemungkinan tidak sampai mengganggu ketahanan pangan sekeligus kebutuhan konsumsi beras nantinya,” tuturnya, Rabu (13/5).

Terjaganya ketahanan pangan di Tabanan di tengah serangan hama, asumsinya disebabkan karena dengan adanya musim kemarau pada saat panen akan menjadi pendongkrak produktivitas hasil produksi padi nantinya. Imbuhnya, rata-rata produktivitas padi di Tabanan akan mencapai 6,5-7 ton per hektar.
Di sisi lain guna pengendalian serangan hama, pihaknya selain menghimbau petani untuk menjaga sanitasi atau kebersihan lingkungan (sawah), upaya pengendalian juga dilakukan dengan menggunakan obat kimia yang sebelumnya sudah diajukan ke pemerintah Provinsi Bali. Yakni, untuk mengatasi hama tikus, penggerek batang, dan hama blast.

Jelas Budana, dari pengajuan tersebut, kini bantuan obat kimia pengendalian hama sudah di dapat dan sudah mulai didistribusikan ke sejumlah sentra produksi yang mengalami kerusakan akibat serangan hama. Katanya, saat ini Tabanan mendapatkan bantuan obat kimia berupa Petrokum mencapai 113 kg, topsin 18 liter dan Sidatan 8 liter.

“Jika jumlah tersebut masih kurang, nantinya bisa kembali diajukan untuk mendapat penambahan kembali,” ujarnya.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura, I Wayan Suandra, menambahkan, sebenarnya untuk pengendalian hama tikus ini efektip dengan cara pengropyokan. Katanya, namun karena di tengah pandemi hal tersebut tidak bisa dilakukan mengingat melibatkan orang banyak, sehingga upaya pengendalian hanya dilakukan melalui gerakan pengendalian (Gerdal) termasuk juga dengan menggunakan obat kimi.

“Namun sebelumnya Gerdal ini dilakukan, dimasing-masing subak melakukan atur piuning (secara niskala). Sebab, kami percaya semua mahluk hidup itu ciptaan tuhan,” kilahnya.*man

BAGIKAN