Di Tengah Virus, Buah Impor Tiongkok tetap Banjiri Pasar

Menjelang Hari Raya Galungan, pasar kembali dibanjiri oleh buah impor termasuk buah dari Tiongkok.

Denpasar (bisnisbali.com) –Menjelang Hari Raya Galungan, pasar kembali dibanjiri oleh buah impor termasuk buah dari Tiongkok. Hal ini menurut Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Provinsi Bali, Ir. I Wayan Jarta, S.E., M.M., karena kebutuhan buah tinggi sementara pada bulan ini sedang tidak musim buah di Bali.

Wayan Jarta mengatakan, impor produk dari Tiongkok sebenarnya tidak distop, sehingga impor buah masih berjalan. “Jadi yang dihindari untuk diimpor sebenarnya adalah produk yang mengandung daging babi dan binatang lainnya. Sementara produk hortikultura masih tetap berjalan,” tutur Jarta, di ruang kerjanya Kantor Disperindag Provinsi Bali, Renon Denpasar.

Meski sudah ada Peraturan Gubernur Nomor 99 tahun 2018 tentang pemasaran dan pemanfaatan produk pertanian, perikanan dan industri lokal Bali, diakui memang tidak bisa menyetop produk impor yang masuk. “Produk impor ini masuk dari Jawa, dan memang masyarakat Bali sedang membutuhkan. Jadi hukum pasar yang bekerja di sini, ada permintaan ada barang yang masuk,” tukasnya.

Dikatakan, saat ini tidak sedang musim buah, sehingga kebutuhan yang besar tersebut memang harus tetap terpenuhi. “Sekarang cuma musim salak saja, dan buah lain belum musim. Tapi tetap kami harapkan agar masyarakat Bali lebih mencintai produk lokal, ini yang akan terus kita dengungkan,” ucapnya.

Pihaknya mengakui tidak dapat memaksa masyarakat, karena konsumen pasti akan memilih produk yang rasanya enak saat dikonsumsi, penampilan menarik dan tentunya harga bersaing. “Hukum pasar ini tidak bisa diubah lagi, memang seperti itu. Konsumen pasti akan memilih, walaupun ada imbauan untuk menggunakan produk lokal tetapi pemerintah tidak bisa memaksa,” tukasnya.

Makanya produk lokal yang harus berbenah dan meningkatkan kualitas agar dapat bersaing dengan produk impor.

Dari data Disperindag Provinsi Bali, total impor buah dari Tiongkok pada 2019 mencapai 1,4 juta lebih dolar Amerika terdiri atas apel fuji dan pear. *pur

BAGIKAN