Di Tengah Pandemi, Wisata Bahari Berpeluang Dikembangkan

Bali sebagai destinasi wisata memiliki beragam hal yang menjadi daya tarik wisatawan.

Denpasar (bisnisbali.com) Bali sebagai destinasi wisata memiliki beragam hal yang menjadi daya tarik wisatawan. Jika dikelompokan, 60 persen wisatawan yang datang ke Bali adalah untuk menikmati keindahan budaya, sementara sisanya untuk menikmati keindahan alam dan objek wisata buatan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) saat silaturahmi Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) yang dirangkai  dengan temu wirasa pelaku wisata bahari di atas geladak kapal Annecha Sailing Catamaran yang berlayar di perairan Pantai Mertasari belum lama ini.

Lebih lanjut Cok Ace yang juga menjabat sebagai Ketua PHRI Bali ini menyampaikan, daya tarik Bali meliputi tiga hal yaitu budaya, keindahan alam dan objek wisata buatan. “Bila dikelompokkan, 60 persen wisatawan datang ke Bali untuk menikmati budaya, 25 persen tertarik dengan keindangan alam dan 15 persen punya minat mengunjungi objek wisata buatan,” bebernya.

Dalam pekembangannya, sektor pariwisata telah melewati pasang surut dengan berbagai dinamika. Menurutnya, sebelum pandemi Covid-19 melanda dunia, tahun 2019 merupakan puncak perkembangan pariwisata Bali dengan jumlah kunjungan wisatawan mencapai 6,3 juta orang. “Jika saja tak ada pandemi, tahun ini kunjungan wisatawan kita targetkan tembus di angka 7 juta,” katanya.

Bila dicermati, wisata bahari juga termasuk kelompok daya tarik keindahan alam dengan porsi kunjungan wisatawan cukup besar. “Tak menutup kemungkinan, mereka yang ke Bali untuk menikmati budaya juga menyempatkan waktu untuk berkunjung ke objek wisata bahari,” tambahnya.

Cok Ace berharap agar pelaku usaha wisata bahari tak patah semangat di tengah pandemi Covid-19 ini. Dalam pengamatannya, daya tarik wisata alam sangat potensial dikembangkan di tengah pandemi. “Seperti yang kita ketahui, daya tarik budaya seperti pagelaran kesenian dan prosesi upacara seperti ngaben agak kontradiktif dengan protokol kesehatan karena umumnya bersifat kolektif, susah jaga jarak. Untuk tarian, memang sudah disiasati dengan penggunaan masker pada tari kecak dan face shield pada tari pendet, namun itu agak mengganggu estetika tarian,” urainya.

Dalam situasi ini, menurutnya daya tarik wisata alam, salah satunya bahari bisa jadi menjadi alternatif dan memiliki daya jual. Terkait dengan kunjungan wisatawan khususnya mancanegara, Cok Ace meminta pelaku usaha untuk bersabar. Selain terkait regulasi dalam negeri, sejumlah negara yang menjadi pasar pariwisata Bali juga masih memberlakukan lockdown. “Yang jelas, pemerintah tak tinggal diam. Kami terus berupaya mengendalikan penyebaran Covid-19 dan mengatasi kontraksi ekonomi agar tak makin dalam,” ucapnya.

Untuk itu, ia mengharapkan dukungan dari seluruh elemen masyarakat agar benar-benar disiplin mematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Menurutnya langkah ini sangat penting untuk membangun kepercayaan wisatawan. *wid

BAGIKAN