Di Tengah Pandemi Corona, Sektor Properti masih Miliki Optimisme

OWNER Krisna Loka Property, Cokorda Agung Krisna, S.T., mengungkapkan, secara umum pandemi corona memang berdampak pada penjualan sektor properti saat ini.

OWNER Krisna Loka Property, Cokorda Agung Krisna, S.T., mengungkapkan, secara umum pandemi corona memang berdampak pada penjualan sektor properti saat ini. Meski begitu, dampak tersebut tidak signifikan.

“Memang ada satu-dua orang calon konsumen yang melakukan pembatalan. Namun secara global, hal itu tidak bepengaruh. Artinya dari seratus persen unit yang terjual, bila ada satu atau dua orang yang melakukan pembatalan, tentu itu tidak akan berpengaruh,” tuturnya.

Jelas pria yang akrab disapa Cok Kresna, bercermin dari kondisi tersebut bisa dibilang untuk penjualan unit properti di tengah pandemi corona ini tetap stabil. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya yang juga sempat dibayangi oleh krisis moneter, namun untuk penjualan unit properti tetap terjual seratus persen. Katanya, kondisi seperti apa pun tidak berpengaruh untuk bisnis properti, karena itu sebenarnya bergantung dari segmen pasar yang dipilih.

“Kebetulan kami pilih segmen pasar dan strategi marketing yang pas, ditopang juga dengan tim marketing yang solid dan lokasi pembangunan yang strategis, maka celah bisnis di sektor properti tetap lancar-lancar saja meski dengan harga jual properti yang stabil selama ini,” ujarnya.

Diakuinya, selama ini sekaligus menjadi salah satu kiat atau strategi untuk bisa eksis dengan penjualan properti yang stabil dari 2014 hingga saat ini, adalah memiliki tim marketing yang kuat. Paparnya, tim marketing ini dibekali suatu standar dalam pemasaran sehingga mereka (tim marketing) yang dominan menggunakan pemasaran melalui online sudah tahu cara untuk memasarkan yang benar dan efektif. Itu terbukti, dari 2014 sampai saat ini sudah memasarkan ratusan unit properti di sejumlah lokasi di Bali dan selama periode tersebut selalu sold out, bahkan habis terjual dalam jangka waktu dua bulan di satu titik lokasi.

Strategi lainnya, dikaitkan dengan kalangan perbankan yang menunda untuk pencairan pembiayaan pembelian properti untuk pelaku sektor pariwisata karena dampak corona. Pihaknya, menyikapi dengan sementara waktu mengalihkan segmen pasar pada kalangan atau calon konsumen yang bergerak di luar sektor tersebut. Artinya, masih bisa mencairkan dana atau permodalan dari nonpekerja pariwisata untuk pembelian unit rumah.

“Bercermin dari itu, strategi kami adalah menggunakan skala prioritas di tengah dampak corona ini, yakni menuntaskan pembangunan unit dari konsumen di luar atau nonpekerja sektor pariwisata, setelah kondisi pulih kembali baru kemudian konsumen propeti dari kalangan pelaku pariwisata ini dilanjutkan, tentunya dengan dibukanya kembali sumber pembiayaan dari kalangan perbankan,” kilahnya.

Sementara itu, prediksinya pandemi corona ini masih akan berlangsung hingga tiga bulan mendatang dan sepanjang itu pula ia tetap optimis penjualan poperti di Bali masih sangat cerah. Itu ia buktikan dengan berencana kembali membuka lahan baru untuk unit properti menjelang akhir tahun nanti. Selain itu, ditopang kondisi Bali yang masih menjadi daya tarik bagi investor dari luar untuk kepemilikan tempat tinggal. *man

BAGIKAN