Di Tengah Pandemi Corona, Kematian Babi mulai Turun  

Di tengah ancaman penyebaran virus corona (covid-19), kasus kematian babi secara mendadak di Kabupaten Tabanan ternyata mulai mengalami tren penurunan sebulan terakhir.

Tabanan (bisnisbali.com) –Di tengah ancaman penyebaran virus corona (covid-19), kasus kematian babi secara mendadak di Kabupaten Tabanan ternyata mulai mengalami tren penurunan sebulan terakhir. Itu tercermin dari rata-rata angka kematian babi yang diduga akibat terserang virus Afrika Swine Fever (ASF) alias demam babi berkisar 4-6 ekor per hari.

Kabid Peternakan Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, I Made Suamba, di Tabanan mengungkapkan, per hari ini secara akumulasi total kematian babi secara mendadak di Kabupaten Tabanan sudah mencapai 6.642 ekor. Imbuhnya, jika dibandingkan kondisi sebelumnya, tren angka kematian babi ini sudah mulai menurun dengan rata-rata mencapai 4-6 ekor per hari.

“Sebelumnya angka kematian babi secara mendadak ini bisa mencapai puluhan ekor per hari,” tuturnya.

Jelas Suamba, meski angka kematian babi ini sudah jauh menurun, kondisi tersebut tidak serta merta mencerminkan bahwa ancaman virus atau penyakit yang menyebabkan kematian babi ini sudah nihil. Sebab menurutnya, penurunan angka kematian babi ini lebih disebabkan jumlah populasi babi yang ada di masyarakat sudah jauh menurun dari sebelumnya, sehingga penurunan populasi ini yang kemudian membuat kematian babi juga mengikuti penurunan saat ini.

“Dari pendataan sebelumnya, yakni sebelum momen Nyepi kami mendapati populasi babi di Tabanan ada sekitar 5 ribuan ekor. Saat ini, kami belum mendata kembali, namun ada kemungkinan jumlah tersebut terus alami penurunan populasi,” tandasnya.

Diakuinya, meski populasi babi di Tabanan telah jauh menurun dari sebelumnya, hal tersebut tidak berdampak pada harga jual babi di tingkat peternak saat ini. Paparnya, harga babi di peternak masih sangat anjlok, yakni hanya Rp 15.000-an per kg. Sebaliknya, harga jual daging babi di pasaran justru stabil atau tidak alami penurunan dengan bercokol di level Rp 50.000 per kg.

Di sisi lain, sambungnya, di tengah ancaman virus corona kegiatan sosialisasi di lapangan menyangkut upaya oleh dinas sebagai antisipasi pecegahan kematian babi ini tidak dilakukan saat ini. Diakuinya, sebagai gantinya, pihaknya mengimbau agar peternak bisa melakukan upaya menjaga sterilisasi dan sanitasi kandang secara mandiri sekarang ini. *man

BAGIKAN