Di Tengah Corona, Jumlah Investor di Bursa Efek Bali Meningkat

Kepala Kantor BEI Bali Agus Andiyasa di Sanur, Kamis (19/3) mengatakan, masyarakat Bali melakukan transaksi di bursa masih relatif normal di tengah wabah virus corona.

Denpasar (bisnisbali.com) –Kepala Kantor BEI Bali Agus Andiyasa di Sanur, Kamis (19/3) mengatakan, masyarakat Bali melakukan transaksi di bursa masih relatif normal di tengah wabah virus corona. Kendati ikut terpengaruh namun jumlah investor mengalami peningkatan sejak awal 2020.

“Pada Januari 2020 jumlah investor mencapai 22.285 SID dengan sub rekening efek 26.844 SRE. Jumlah ini meningkat dari Desember 2019 mencapai 21.970 SID dengan 26.412 SRE. Februari 2020 jumlah investor naik menjadi 22.569 SID dengan 27.203 SRE,” katanya.
Menurutnya adanya virus corona secara tidak langsung pasti ada pengaruh dikarenakan hampir seluruh dunia kena imbas virus Covid-19. Dari sisi data diakui jumlah investor memnag meningkat pada dua bulan terakhir, tetapi rata-rata peningkatan 2 bulan ini agak berkurang dibandingkan rata-rata tiap bulan tahun lalu.
Kendati demikian Agus optimis tahun ini tetap meningkat jumlah investor di Bali.

“Hanya saja kami menunda event-event besar yang jumlah audiens banyak,” katanya.Menurutnya pasar modal menjadi tempat investasi yang menjanjikan, termasuk bagi kalangan pensiunan, guru dan ibu rumah tangga meski dari sisi persentase belum setinggi pegawai swasta.. Pensiunan di era saat ini kendati tidak lagi bekerja namun masih bisa berproduksi dengan berinvestasi saham karena menjadi seorang investor dapat mendatangkan keuntungan.

“Dengan berinvestasi di saham maka selama masa pensiun tidak menghadapi kesulitan keuangan,” ujarnya
Diakui dari sisi jumlah investor ada pertumbuhan. Itu terlihat sepanjang 2019 jumlah investor saham terus mengalami peningkatan dibandingkan kondisi sama 2018. Dari jenis pekerjaan, kalangan pegawai swasta masih tertinggi mencapai 35 persen. Kendati demikian kalangan anak muda, pelajar termasuk ibu rumah tangga kini mengalami peningkatan.
“Pelajar dan ibu rumah di Bali makin tertarik kini miliki suatu perusahaan. Terbukti jumlah investor pelajar dan ibu rumah tangga bertumbuh pada 2019 yang berarti mereka makin tertarik memiliki suatu perusahaan dengan membeli saham,” ujarnya.
Menurutnya berdasarkan klasifikasi jenis pekerjaan, jumlah investor dari pelajar pada 2019 mencapai 19 persen atau ada kenaikan 1 persen dari 2018 mencapai 18 persen. Investor ibu rumah tangga pada 2019 juga sudah meningkat mencapai 3 persen dari tahun lalu masih 2 persen. Sementara jenis pekerjaan lainnya , pengusaha mencapai 12 persen, pegawai negeri 11 persen, guru 1 persen, pensiunan 1 persen dan lainnya 18 persen.

Agus menyampaikan pegawai swasta mencapai 35 persen atau terbanyak menjadi investor saham seiring makin gencarnya sosialisasi yang dilakukan BEI Bali dan ketertarikan mereka untuk berinvestasi selain di lembaga keuangan dalam hal ini perbankan. Itu juga menunjukkan inklusi keuangan mereka khususnya di pasar modal lebih banyak.*dik

BAGIKAN