Di Tabanan, Serapan KUR Sektor Pertanian Sangat Rendah

Serapan atau realisasi dari kredit murah dari program pemerintah dalam bentuk kredit usaha rakyat (KUR) di sektor pertanian di Kabupaten Tabanan masih sangat rendah pada tahun ini.

PERTANIAN - Penandatanganan MoU empat pengusaha di bidang pertanian dengan salah satu bank penyalur KUR.

Tabanan (bisnisbali.com) –Serapan atau realisasi dari kredit murah dari program pemerintah dalam bentuk kredit usaha rakyat (KUR) di sektor pertanian di Kabupaten Tabanan masih sangat rendah pada tahun ini. Betapa tidak, hingga saat ini serapan kredit yang bersuku bunga 6 persen di kalangan petani di Tabanan baru mencapai Rp 117.565.633.000, dengan jumlah debitur hanya 3.296 orang.

Demikian terungkap dalam sosialisasi KUR pertanian meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani yang digelar di Bedha, Tabanan, Sabtu (5/9). Hadir dalam kesempatan tersebut, Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Drs. I Made Urip, M.Si., Direktur Pembiayaan Dirjen Sarana Prasarana Kementerian Pertanian Indah megawati, Kepala Dinas Pertanian Tabanan, I Nyoman Budana dan dari kalangan perbankan penyalur KUR.

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan I Gusti Putu Wiadnyana yang juga hadir dalam kesempatan tersebut mengungkapkan, tahun ini dengan sisa waktu yang tinggal tiga bulan untuk penyalur KUR ke kalangan petani di Tabanan memang cukup rendah. Pada 2019 lalu kredit program yang sama menyentuh ke sektor pertanian ini bisa menyerap hingga Rp 206.397.500.000 dengan jumlah debitur mencapai 6.681 orang. “Sektor pertanian yang dimaksud ini tidak hanya pertanian di sawah dan kebun saja, namun mencakup juga peternakan dan perikanan yang secara umum untuk serapan KUR sangat rendah tahun ini,” tuturnya.

Jelas Wiadnyana, tahun ini secara nasional alokasi KUR untuk sektor pertanian sekitar Rp 50 triliun. Namun dari jumlah tersebut baru terserap atau tersalurkan ke petani mencapai Rp 27 triliun. Bercermin dari itu, dia berharap Kabupaten Tabanan sebagai lumbung pangannya Bali bisa menyerap kredit program ini dengan porsi yang lebih meningkat lagi dari sebelumnya.

Di sisi lain dia mengakui, rendahnya serapan KUR di kalangan petani di Tabanan ini disebabkan oleh ketatnya persyaratan yang diajukan oleh bank penyalur selama ini. Itu mungkin disebabkan karena pihak lembaga keuangan ini menganggap kredit pertanian memiliki risiko tinggi, karena sangat tergantung dengan alam atau kondisi musim.

“Pelayanan bank penyalur KUR ini mendapat keluhan sejumlah petani selama ini. Padahal sebenarnya, dengan adanya jaminan dari pemerintah, dan pengawasan, maka potensi munculnya kredit KUR bermasalah dipetani ini bisa dihindari,” tandasnya.

Selain itu, rendahnya penyaluran KUR juga disebabkan oleh pengetahuan atau akses petani untuk mendapatkan kredit murah ini yang sangat rendah selama ini. Kalaupun sebelumnya sudah dilakukan sosialisasi menyangkut KUR dengan menyasar sejumlah pekaseh atau pengurus subak, nampaknya sosialisasi tersebut tidak sampai ke petani. Sebab itu, kini untuk meningkatkan serapan KUR upaya yang akan dilakukan adalah menggandeng pengusaha di bidang pertanian.

“Jika kami menyasar petani kecil, rasanya memang agak susah karena sejumlah petani mungkin belum bankable, sehingga sejumlah petani ini tidak memenuhi persyaratan bank penyalur KUR. Kondisi ini berbeda halnya dengan keberadaan para pelaku pengusaha pertanian yang sudah bankable,” kilahnya.

Menyasar kalangan pelaku usaha di sektor pertanian ini juga sesuai dengan harapan dari pihak Kementerian Pertanian, agar petani di Tabanan ini bisa memanfaatkan KUR dengan plafon pinjaman di kisaran Rp 50 juta sampai Rp 500 juta. Artinya, memang menyasar yang betul-betul menjadi pengusaha pertanian.

Bercermin dari itu pula, pada saat sosialisasi KUR ke petani ini juga dilakukan penandatanganan MoU kerja sama antara empat pengusaha di bidang pertanian dengan salah satu bank penyalur KUR yang disaksikan oleh Made Urip, Direktur Pembiayaan Dirjen Sarana Prasarana Kementerian Pertanian dan Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan. Pengusaha di bidang pertanian ini di antaranya, CV Bagus Segar Utama yang merupakan eksportir manggis sekaligus juga merupakan pengusaha pertanian yang bekerja sama dengan Gapoktan manggis di Desa Mundeh Kangin.

“Harapannya, pengusaha pertanian ini menjadi penyambung antara perbankan dengan Gapoktan. Sekaligus juga, pengusaha ini akan bertanggung jawab terhadap manggis yang dihasilkan petani sehingga alasan kredit macet di petani karena produksi tidak tersalur atau terjual bisa diminimalis,” tegasnya.

Sambungnya, MoU juga dilakukan oleh CV Tirta Jati Mesari yang merupakan pengusaha di bidang penjualan alsintan pertanian dengan pihak bank penyalur KUR. Harapannya, bila ada petani di Tabanan yang membutuhkan mesin di bidang pertanian, maka CV Tirta Jati Mesari ini siap menyalurkan mesin tersebut ke petani melalui pembiayaan program KUR.

“MoU juga dilakukan dengan pihak Perpadi. Namun, kami sedang godok lagi saat ini. Nantinya, MoU ini akan membuat anggota Perpadi bisa menyerap gabah di petani pada musim panen raya,” ujarnya.*man

BAGIKAN