Di Tabanan, Populasi Babi Hanya 14.474 Ekor

Memenuhi kebutuhan babi di Kabupaten Tabanan pada hari raya Galungan yang jatuh pada 14 April mendatang, Tabanan diprediksi harus mendatangkan babi dari luar daerah.

BABI - Peternak di Tabanan masih membatasi populasi babi.

Tabanan (bisnisbali.com) – Memenuhi kebutuhan babi di Kabupaten Tabanan pada hari raya Galungan yang jatuh pada 14 April mendatang, Tabanan diprediksi harus mendatangkan babi dari luar daerah. Sebab, suspect virus African Swine Fever (ASF) menyebabkan anjloknya populasi babi di Tabanan. Sesuai data Dinas Pertanian Tabanan, populasi babi hanya 14.474 ekor per Desember 2020.

Salah seorang peternak babi di Tabanan yang Wakil Ketua GUPBI Bali, Nyoman Ariadi, Senin (22/3), mengungkapkan, populasi babi di tingkat peternak di Tabanan sudah jauh menurun dari sebelumnya. Hal ini memicu harga babi di tingkat peternak ini cukup mahal dibandingkan dengan kondisi sebelum serangan suspect ASF. Tak hanya mahal, ternak juga banyak yang dipasok dari luar Tabanan. Sejauh ini, harga babi di tingkat peternak Rp 48.000 per kg sampai Rp 50.000 per kg.

“Saat ini bisa dibilang populasi babi di kalangan peternak ini sangat sedikit. Contohnya di Tabanan, populasi babi yang masih ada seperti di daerah Penebel. Selain itu ada di daerah Payangan, Gianyar, dan Bangli,” bebernya.

Menurut Ariadi, meski sulit untuk mengetahui kebutuhan babi khususnya pada momen Galungan di tengah pandemi nanti, ada kemungkinan stok babi harus didatangkan dari luar Tabanan. Sebab asumsinya, saat ini meski ada kecenderungan harga babi ini makin mahal, kondisi tersebut tidak serta merta disikapi oleh peternak babi untuk meningkatkan populasi dengan tujuan dijual pada momen Galungan nanti.

Dibandingkan dengan enam bulan lalu, memang sejumlah peternak sudah mulai mencoba untuk mengusahakan babi, terutama di Penebel. Namun jumlah atau populasi yang dicoba oleh peternak ini tidak sebanyak dibandingkan dengan sebelumnya.

“Peternak sudah mulai coba-coba lagi untuk pelihara babi. Tapi jumlahnya terbatas, karena mereka masih waswas mengalami kerugian karena ancaman terhadap kasus kematian babi secara mendadak ini masih berpotensi tetap terjadi,” keluhnya.

Pertimbangan peternak ini untuk membatasi populasi di tengah mahalnya harga babi karena biaya usaha yang cukup mahal. Dia mencontohkan, biaya pakan pabrikan yang rata-rata sudah di atas Rp 500 ribuan per sak. Angka ini naik dari sebelumnya yang mencapai Rp 400 ribuan per sak.

Tak hanya itu, harga bibit babi juga mengalami lonjakan. “Sekarang ini harga bibit babi sudah mencapai Rp 1.250.000-Rp 1.400.000, sesuai kualitas. Biaya yang mahal ini kemudian menjadi pertimbangan bagi peternak untuk berusaha apalagi menambah populasi babi saat ini,” kilahnya.

Ia memprediksi, jelang maupun pada momen Galungan, meski populasi terbatas, kemungkinan harga babi tidak mengalami lonjakan. Sebab harga babi di tingkat peternak sudah cukup mahal. Begitu juga harga di tingkat pedagang di pasar dalam bentuk daging babi potong yang mencapai Rp 90 ribu per kg sampai Rp 100 ribu per kg. “Harga babi sudah sangat mahal dan ini bila mengalami lonjakan kembali, maka serapan pasar akan babi justru akan turun seiring dengan masih lesunya daya beli masyarakat saat ini,” tegasnya.

Sebenarnya, kalangan peternak tidak berharap harga babi seperti saat ini yang terlalu tinggi. “Peternak justru berharap harga babi ini berada di posisi ideal atau di kisaran Rp 40.000 per kg,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Tabanan, Ni Dewa Ayu Putu Sri Widyanti, SP,M. Si mengungkapkan, prediksi kebutuhan daging babi di Kabupaten Tabanan mencapai 15,2 gram per kapita per hari atau 106,4 gram per kapita per minggu. Jumlah penduduk Tabanan (data Dukcapil) mencapai 468.941 orang, artinya total kebutuhan daging babi per minggu mencapai 49.895.322 gram atau 49,9 ton.*man

BAGIKAN