Di Tabanan, Permintaan Benih Nila Melonjak  

Selama pandemi Covid-19, permintaan pasar akan benih maupun penderan nila dengan pangsa pasar petani dan pembudidaya nila di Danau Batur, Kintamani, Bangli cenderung alami lonjakan.

Petani saat panen produksi ikan nila di Tabanan.

Tabanan (bisnisbali.com) –Selama pandemi Covid-19, permintaan pasar akan benih maupun penderan nila dengan pangsa pasar petani dan pembudidaya nila di Danau Batur, Kintamani, Bangli cenderung alami lonjakan. Kondisi tersebut sejalan dengan harga nila di pasaran, baik di tingkat pendederan maupun nila siap konsumsi (pembesaran) yang cenderung stabil selama tiga tahun terakhir.

Kepala UPTD PBB Dinas Perikanan Kabupaten Tabanan, I Nyoman Punia Yasa, S.Pi, Jumat (2/10) mengungkapkan, di tengah pandemi Covid-19 permintaan benih dasar ikan nila (ikan dengan ukuran 1 cm) di Dinas Perikanan sebenarnya mengalami peningkatan dari biasanya. Namun, karena saat ini banyak petani telah membentuk induk kelompok tani, sehingga BBI hanya bersifat menutupi kekurangan yang tidak bisa dipenuhi oleh indukan mereka (kelompok tani). Imbuhnya, saat ini di Tabanan sudah ada tiga kelompok tani pemijahan ikan nila. Yakni, ada di Desa Bolangan, Desa Tajen, dan yang ada di Desa Baru.

“Rata-rata permintaan benih dasar ikan nila oleh petani mencapai 200 ribuan-300 ribuan ekor per bulan. Per ekor harga benih dasar ikan nilai ini dibanderol Rp 20 per ekor sesuai dengan SK Bupati Tabanan,” tuturnya.

Jelas Punia, selama ini dinas hanya memproduksi benih dasar saja, dari benih dasar tersebut pihaknya mengedukasi masyarakat untuk mengembangkan usaha atau sebagai petani pendederan (P2), dari P2 ini kemudian hasilnya beberapa dilempar untuk memenuhi kebutuhan pasar petani yang ada di Danau Batur, Kintamani, Bangli, beberapa ada yang dilempar untuk petani lokal sebagai budi daya atau pembesaran, dan juga untuk memenuhi kebutuhan ikan di usaha kolam pancing. Katanya, selama ini untuk kebutuhan petani di Danau Batur rata-rata menyerap produksi P2 di Tabanan hingga 7-8 juta ekor per tahun dengan kualitas grade 9-10. Harga untuk serapan ikan nila dengan kualitas hasil produksi P2 ini berkisar Rp 420 per ekor – Rp Rp 480 per ekor.

“Sedangkan untuk serapan hasil produksi P2 ikan nilai di Tabanan di antaranya terserap ke sejumlah petani yang ada di Kecamatan Penebel, dan Selemadeg Timur (daerah Gunung Salak),”ujarnya.

Di sisi lain menurutnya, selama pandemi Covid-19 nampaknya pengembangan ikan nila di kalangan petani ini menjadi daya tarik tersendiri. Kondisi tersebut sejalan dengan harga jual yang cenderung stabil, baik di tingkat penjualan P2, maupun pada tahapan hasil produksi pembesaran atau siap konsumsi. Akuinya, di tingkat usaha pembesaran ikan nila, rata-rata harganya dibandrol hingga Rp 23 ribu per Kg – Rp 24 ribu per Kg di kolam.

“Harga nila ini cenderung stabil selama tiga tahun terakhir. Berbeda dengan harga lele, di mana lele cenderung berfluktuatif karena tergantung pasokan dari Jawa,” kilahnya.

Sementara itu tambahnya, selama ini untuk produksi benih dasar nila dan lele, pihaknya menargetkan berproduksi mencapai 5.665.000 per tahun. Akuinya,selama ini target tersebut selalu tercapai, bahkan cenderung ada peningkatan produksi.*man

BAGIKAN