Di Karangasem, Harga Cabai Tembus Rp80 Ribu per Kg  

Harga cabai terus naik. Di Karangasem, cabai kecil sudah tembus Rp80 ribu per kg.

Seorang ibu sedang memetik cabai yang hampir membusuk  agar tak rugi total.  Saat musim hujan,  tanaman cabai rusak,  buahnya rontok dan harganya pun melonjak tinggi.

Amlapura (bisnisbali.com) –Harga cabai terus naik. Di Karangasem, cabai kecil sudah tembus Rp80 ribu per kg. Dari pantauan di Pasar Amlapura Timur, Senin (20/1), harga cabai  kian melonjak.  Kenaikan harga cabai itu membuat kelimpungan konsumen, ibu rumah tangga dan kalangan pedagang kecil seperti pedagang nasi di Karangasem.

Salah seorang pedagang bumbu di pasar tradisional terbesar di Karangasem itu, Ida Ayu Komang menyampaikan, naiknya harga cabai sebenarnya  sudah terjadi sejak sebulan lalu. Saat itu kenaikan belum terlalu tinggi. Saat itu harga cabai berkisar Rp30 ribu per kilogram dari kisaran Rp20 ribu. Harga cabai berangsur – angsur naik menjadi Rp60 ribu, hingga kemarin sudah menembus Rp80 ribu per kg. ‘’Cabai besar juga naik, menjadi Rp70 ribu per kg,’’ ujar Ida Ayu Komang asal Kecicang itu.

Pedagang bumbu lainnya yang ditemui di Pasar Amlaprua Timur, Ni Made Suji memperkirakan harga bumbu khususnya cabai akan terus mengalami kenaikan, hingga hari penampahan sehari menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan, Februari nanti. Namun, pihaknya juga tidak berani menimbun atau menyetok cabai, karena bumbu segar itu cepat busuk.

Kenaikan harga cabai belakangan ini, sangat dirasakan oleh pedagang nasi Ibu Dewi yang membuka dagangan di seputar Jl. Untung Surapati, Amlpaura. Dengan naiknya harga cabai belakangan ini, kata Dewi, terpaksa dia mengurangi membeli cabai, terutama cabai besar. Uang yang dimiliki lebih banyak dipakai membeli cabai kecil, yang meski kenaikan harganya lebih tinggi. ‘’Cabai kecil itu  lebih bagus. Karena meski diisi sedikit, pedasnya lauk sudah dirasakan, dibandingkan menggunakan cabai besar, yang harganya juga sudah naik tinggi, meski menggunakan cabai besar banyak, pedasnya kurang terasa jadi mubazir,’’ terang Dewi.

Dewi mengatakan, sebelum ada kenaikan harga, dia menghabiskan cabai besar tiga kilo untuk bumbu lauk berdagang nasi. Saat  harganya  naik, terpaksa  dikurangi menjadi hanya 2 kilogram, sedangkan cabai  kecil tetap digunakan 2 kilogram sehari untuk membuat lauk. ‘’Saya tetap menggunakan cabai kecil atau cabai rawit, agar rasa masakan tidak berubah, sehingga tidak mengecewakan pelanggan yang sudah biasa makan di warung kami,’’ paparnya.

Dewi mengatakan, lonjakan harga cabai yang tinggi itu dikeluhkan masyarakat. Dia mengatakan, semua pedagang bumbu di pasar itu tidak berani membeli dan menyimpan dagangan cabai dalam jumlah banyak. Karena hari raya masih jauh, dikhawatirkan harga tiba-tiba turun dan membuat rugi besar. Di samping itu, persediaan atau pasokan cabai dari luar Karangasem seperti Kintamani lewat Klungkung  juga terbatas. Cabai besar lebih  sulit diperoleh, diduga karena produksi menurun pada saat musim hujan di pusat pertanian cabai seperti di  Kabupaten Tabanan atau Kintamani, Bangli.

Warga terutama ibu rumah tangga , berharap pihak Pemkab Karangasem melakukan pemantauan, harga cabai. Kalau bisa harga-harga  diturunkan dan stabil, apalagi menjelang Hari Raya Galungan.

Sementara itu, Sekdis Perdagangan Kabupaten  Karangasem I  Gade Loka  Santika, mengakui harga cabai memang  mengalami lonjakan  tinggi sampai kemarin. Sementara, harga kebutuhan pokok lainnya masih stabil harganya. Kalau pun ada kenaikan, seperti beras, kenaikan harga yang sudah terjadi akhir tahun lalu itu, tidak terlalu tinggi.

Loka Santika berharap, harga kebutuhan pokok  tetap stabil. Diakui,  menjelang Galungan dan Kuningan, rutin  terjadi  kenaikan harga sembako. Pihaknya tetap rutin melakukan pemantauan harga di sejumlah pasar tradisional di Karangasem. * bud

BAGIKAN