DFF Kombinasikan Tenun Ikat dan Budaya

Pandemi Covid-19 yang membatasi aktivitas masyarakat membuat Denpasar Fashion Festival (DFF) digelar secara virtual pada Selasa (29/12) malam.

ENDEK – Desainer menampilkan bahan dasar endek pada Denpasar Fashion Festival yang digelar secara virtual.

Denpasar (bisnisbali.com) – Pandemi Covid-19 yang membatasi aktivitas masyarakat membuat Denpasar Fashion Festival (DFF) digelar secara virtual pada Selasa (29/12) malam. Sebanyak 10 desainer yang terlibat menampilkan rancangan sesuai ciri khas masing-masing.

Ketua Dekranasda Denpasar Ny. I.A. Selly Dharmawijaya Mantra menyampaikan, DFF serangkaian Denfest menjadi puncak penampilan desainer-desainer Denpasar dengan berbagai karyanya dari bahan tenun ikat endek. Meski dalam keterbatasan akibat pandemi, kegiatan ini dapat tetap berjalan secara virtual melalui chanel Youtube Kreativi Denpasar.

Untuk memasyarakatkan kembali endek, pihaknya  juga menggandeng insan muda yang membentuk Duta Endek Denpasar serta memberikan pelatihan menenun kepada siswa SMK dan ibu rumah tangga guna membentuk regenerasi penenun.

Penampilan desainer di DFF sudah mengombinasikan tenun ikat dengan tekstil lainnya. Acara fashion ini tetap mengangkat akar budaya meski dikombinasikan dengan bahan yang lain. “Tentu ini sebuah kebanggaan bersama akademisi dan anak-anak muda Denpasar mampu membawa kain tenun ikat endek dan industri fashion Denpasar berbicara di kancah nasional dan internasional seperti di Paris Fashion Week,” ungkap Selly Dharmawijaya Mantra.

Akademisi Desain Mode ISI Denpasar Dr. Tjokorda Istri Ratna Cora Sudharsana mengatakan, saat ini kreativitas semakin diangkat dan menemukan bentuk desain mengacu masa pandemi seperti masker. “Fashion adalah identitas kita. Dengan fashion kita dapat mengubah segalanya, termasuk perilaku kita pada masa pandemi saat ini,” ujarnya.

Menurutnya, tren fashion pada tahun 2021 lebih mengarah pada tema alam dan sebagian besar desainer Denpasar telah menampilkannya pada ajang DFF. Misalnya pakaian sederhana, warna lebih cerah, penggunaan bahan simetris dan teknik lukis bernuansa Bali. “Harmonisasi budaya Bali menjadi titik tolak kami sebagai akademisi dan sepakat pada program  Pemkot Denpasar dalam pelestarian tenun ikat Bali,” jelasnya. *wid

BAGIKAN