Desa Kukuh Berdayakan BUMDes Serap Gabah Petani

Untuk meningkatkan kesejahteraan petani padi sekaligus memutus permainan tengkulak, Desa Kukuh, Kecamatan Kerambitan, menggulirkan sejumlah program, salah satunya menyerap hasil petani setempat.

BERSAMA - I Nyoman Widhi Adnyana bersama Kepala Operasional BUMDes Kukuh Winangun.

Tabanan (bisnisbali.com) –Untuk meningkatkan kesejahteraan petani padi sekaligus memutus permainan tengkulak, Desa Kukuh, Kecamatan Kerambitan, menggulirkan sejumlah program, salah satunya menyerap hasil petani setempat. Upaya tersebut dikelola melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai inovasi dalam pengelolaan usaha.

Kepala Desa Kukuh Kerambitan, I Nyoman Widhi Adyana, mengungkapkan pembelian hasil petani Desa Kukuh melalui BUMDes Kukuh Winangun dalam bentuk gabah ini dilakukan mulai 2020 lalu pada musim tanam ketiga dengan serapan 9,2 ton. Pembelian berlanjut pada musim panen pertama 2021 dengan menyerap 16,2 ton.

BUMDes Kukuh Winangun berdiri 6 April 2015, namun kemungkinan karena belum ada analisa bisnis belum beroprasi secara baik. “Sampai kami dilantik, baru pada Januari 2020 BUMDes ini kami berdayakan optimal dengan membuat keputusan Perbekel tentang AD/ART dan Perdes,’’ tuturnya, Sabtu (29/5) lalu.

Menurutnya, pada 2020 lalu serapan produksi gabah cukup rendah, karena sejumlah petani di Desa Kukuh mengalami gagal panen akibat hama tikus. Tahun ini serapan gabah meningkat, namun jumlahnya tidak optimal. Sebab, sejumlah pekaseh terlanjur MoU dengan salah satu koperasi, sehingga BUMDes hanya bisa membeli gabah di luar MoU tersebut.

BUMDes membeli gabah para petani mulai Rp 4.000 sampai yang tertinggi Rp 4.600 per kilogram. Harga ini sudah mengacu pada ketentuan yang ditetapkan pemerintah. Upaya ini diharapkan bisa menyejahterakan petani di Desa Kukuh sekaligus untuk memutus rantai permainan harga sejumlah tengkulak pada setiap musim panen. “Kami sempat mendapat komplain sejumlah pengijon atau tengkulak, karena mereka nilai kami beli gabah petani  cukup tinggi atau lebih tinggi dari pembelian mereka yang di kisaran Rp 2.600-Rp 3.600 per kilogram,” ujarnya.

Selain menyerap panen, BUMDes membuat demplot pertanian semi organik tahun ini. Periode pertama sudah berlangsung di luasan 2 hektar dan saat ini dimulai di Subak Samsaman seluas 1 hektar bekerja sama dengan perguruan tinggi. “Pembelian gabah petani ini bersumber dari dana penyertaan modal pemerintah daerah mencapai Rp 200 juta yang didapat sebelumnya,” jelasnya.

Hasil olahan gabah dalam bentuk beras oleh BUMDes sudah memiliki pangsa pasar yang cukup luas. Di antaranya melalui istri Gubernur Bali untuk kebutuhan TP PKK mencapai 6 ton per bulan. Selanjutnya salah satu pasar di Rendang (Kabupaten Karangasem, Perusda Provinsi Bali, pasar di Sempidi (Kabupaten Badung), sejumlah agen hingga  bekerja sama dengan koperasi karyawan di salah satu kampus untuk menyuplai kebutuhan beras.

BUMDes juga menyuplai 25 warung yang ada di desa. Antara lain untuk keperluan LPG menghabiskan hingga 260 tabung per bulan, air mineral 500 galon setiap bulan dan 700 dus untuk berbagai ukuran per bulan. *man

BAGIKAN