Dekatkan Pengobatan Tradisional Bali Komplementer ke Masyarakat

Keinginan Gubernur Bali Wayan Koster, memposisikan pengobatan tradisional Bali komplementer sejajar dengan pengobatan medis mendapatkan dukungan dari komponen Gotra Pengusada Taru Pramana.

Bhakti Sosial Kesehatan Komplementer.

Denpasar (bisnisbali.com) –Keinginan Gubernur Bali Wayan Koster, memposisikan pengobatan tradisional Bali komplementer sejajar dengan pengobatan medis mendapatkan dukungan dari komponen Gotra Pengusada Taru Pramana. Untuk menunjukkan eksistensi Pengusada Bali, I Nyoman Sridana, S.Kes.H., M.Si, mengatakan para pelaku pengobatan tradisional Bali komplementer kerap melaksanakan pengobatan gratis untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat Bali. Dengan demikian masyarakat Bali akan lebih mengetahui keberagaman pengobatan tradisional Bali komplementer dan manfaatnya.

Sridana saat ditemui di ruang kerjanya, Jalan Tukad Badung Renon Denpasar,memaparkan dalam payung hukum pengobatan tradisional yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 103 Tahun 2014 Tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional ada 3 yaitu Pelayanan kesehatan tradisional empiris adalah penerapan kesehatan tradisional yang manfaat dan keamanannya terbukti secara empiris. Kemudian pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer adalah pelayanan kesehatan tradisional yang memanfaatkan ilmu biomedis dan biokultural. Dan pelayanan Kesehatan Integrasi adalah suatu bentuk pelayanan kesehatan yang mengombinasikan pelayanan kesehatan konvensional dengan Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer.

Untuk mendukung program Koster, pihaknya terus melakukan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Seperti dalam rangka kegiatan keagamaan di Pura  Kayangan Jagat Luhur Watukau di Desa Wong Aya, Penebel Tabanan Komunitas Pengusada Bali memberikan pengobatan gratis kepada pelayan umat yakni Pemangku, Serati dan Panitia yang telah bekerja keras selama karya.

“Kami dari Komunitas Pengusada Bali bergabung dengan tim medis memberikan pelayanan kepada masyarakat. Jadi ini sesuai dengan harapan Bapak Gubernur, antara pengobatan komplementer dan medis duduk bersama,” ucapnya.

Berbagai pengobatan komplementer dapat diberikan seperti terapi pijat, screening, terapi uap nadhi Sueda, terapi pijat meridin mata, kepala, telinga, pundak dan tangan, Hypnotherapy, Mesmer dan Quantum Healing. Ada juga  tenung wariga, tenung kartu tarot, tenung angka, tenung garis tangan dan sebagainya.

Keluhan pasien, berdasarkan tradisi USADA BALI biasanya dikelompokkan ke dalam tiga golongan (Prof. Nala), yakni ‘Baeng’ (hangat), ‘Nyem’ (dingin) dan ‘Dayuh’ (sedang).

Menurut dr. Ngurah Eka Putra sebagai organisator acara ini bahwa didalam pengobatan medis konvensional dibagi 3 golongan yaitu, terapi nonfarmakologis, farmakologis dan bedah. Namun dalam Pengobatan Usada Bali /Tradisional Bali dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu ‘’Energi Based Therapy’’ mencakup prana / tenaga dalam, soul healing, ATS, Rei Ki, Sambala. Kemudian ‘’Meridian Based Therapy’’ mencakup pijat, totok, refleksi, akupuntur, bekam, simbuh, serta ‘’Naturopathy’’ mencakup jamu, herbal, Nadi Sweda, terapi cahaya.

“Dalam pelayanan kegiatan Bhakti Sosial Kesehatan Komplementer  sebagaimana mestinya, kita bisa saling mengisi satu sama lain sebagai sebuah keluarga,” pungkas Eka Putra. *pur

BAGIKAN