Daya Beli Warga Turun, Omzet Pasar pun Melorot

Tidak hanya pengaruh suplai produk ke sektor pariwisata secara langsung yang membuat omzet pedagang di pasar tradisional turun. Kian melemahnya daya beli masyarakat juga turut mempengaruhi.

Denpasar (bisnisbali.com) –Tidak hanya pengaruh suplai produk ke sektor pariwisata secara langsung yang membuat omzet pedagang di pasar tradisional turun. Kian melemahnya daya beli masyarakat juga turut mempengaruhi. Kondisi ini juga terjadi di pasar modern. Transaksinya terus mengalami penurunan sejak beberapa bulan terakhir.

Seperti diberitakan sebelumnya, omzet pedagang di pasar tradisional khususnya di Denpasar menurun hingga 70 persen di tengah pandemi covid-19.

Direktur Perumda Pasar Sewaka Dharma AA Ngurah Yuliartha, menyebutkan, kondisi ini tidak hanya terjadi di pasar-pasar besar yang selama ini pangsa pasarnya ke sektor pariwisata, namun juga terjadi pada pasar-pasar kecil lainnya. Dia mengatakan, hal ini dipengaruhi daya beli masyarakat yang saat ini terus menurun. “Hingga saat ini belum ada tanda-tanda pergerakan transaksi pedagang akan naik,” ujarnya.

Dikatakan, harga kebutuhan pokok saat ini stabil, bahkan ada beberapa jenis yang relatif murah, seperti sayur dan beberapa jenis bumbu dapur. Namun kondisi perekonomian yang masih sangat lesu belum mampu menaikkan transaksi pedagang di pasar tradisional.

Hal senada juga diakui oleh pasar modern khususnya ritel. Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Bali AA Agra Putra, mengatakan, transaksi di pasar modern khususnya ritel juga mengalami penurunan sejak April lalu secara bertahap. “Pada Maret karena ada Hari Raya Nyepi dan saat itu baru-baru diumumkan tanggap corona sempat terjadi panic buying, transaksi masih tumbuh positif, bahkan di kuartal pertama tumbuh hingga double digit. April mulai menurun 10 persen,” ungkapnya.

Hingga Juni, lanjut Agung Agra, penurunan omzet mencapai 30 persen dibandingkan bulan yang sama pada tahun sebelumnya. Untuk toko-toko non groceries seperti fashion dan lainnya mengalami penurunan hingga 80 persen, serta beberapa toko juga dikatakan masih belum bisa beroperasi. Di Bali, kata Agung Agra  ada 30 perusahaan ritel dengan 500 outlet yang tergabung dalam Aprindo. “Pademi covid-19 ini memang mempengaruhi semua sektor usaha, tidak terkecuali ritel. Hanya pengaruhnya ada yang di awal ada belakangan,” terangnya.

Menurutnya, penurunan transaksi ini disebabkan oleh daya beli masyarakat yang kian menurun yang merupakan dampak dari covid-19. Kondisi ini dikatakannya terjadi secara global, ditambah perekonomian Bali yang 70 persen bergantung dari pariwisata dan banyak masyarakat yang pendapatannya dari sektor pariwisata membuat daya beli masyarakat menurun drastis. *wid

BAGIKAN