Dampak Pandemi, Pengangguran Terdidik Turut Meningkat

PANDEMI Covid-19 tak hanya berimbas pada sektor pariwisata dan pertumbuhan ekonomi di Bali.

PANDEMI Covid-19 tak hanya berimbas pada sektor pariwisata dan pertumbuhan ekonomi di Bali. Pandemi yang telah berlangsung setahun lebih ini berimbas pula pada angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Bali yang didominasi  pengangguran terdidik.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unud Dr. IGW Murjana Yasa di Denpasar menyampaikan pengangguran terdidik yang paling banyak terjadi saat ini. Berdasarkan data pengangguran tertinggi didominasi oleh lulusan diploma 13,15 persen dan lulusan universitas 6,26 persen. “Meski angka pengangguran di Bali terbilang lebih rendah dari nasional, namun yang memprihatinkan justru pengangguran lebih banyak terjadi pada tamatan diploma dan perguruan tinggi serta SMK,” katanya.

Sementara tenaga kerja yang banyak terserap adalah tamatan SMP. Tingkat pengangguran terbuka di Bali hanya 5 persen, secara nasional 7 persen. Jadi pengangguran di Bali masih lebih baik dibandingkan nasional. “Pengangguran lebih disebabkan karena mereka ini masih mampu “menganggur”, peluang baru yang sulit, angkatan kerja yang bertambah akibat terkena PHK dan dirumahkan serta pilih-pilih kerja,” jelasnya.

Murjana Yasa menilai ada beberapa faktor penyebab terjadinya pelonjakan pengangguran tinggi di Bali. Itu di antaranya antrean kerja yang bertambah terjadi saat pandemi ini, lulusan perguruan tinggi, diploma, dan SMA juga terjadi kenaikan hingga mereka yang terdampak pandemi dan akibat dirumahkan oleh perusahaan tempatnya bekerja.

Akibat dampak dari pandemi, menurutnya banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan atau di PHK dan ditambah para lulusan saat pandemi sulitnya mencari peluang-peluang pekerjaan. Tingkat pengangguran di Bali sebelumnya, pada tahun 2017 hingga 2019 relatif kecil, namun ketika pandemi ini mulai melonjak sangat signifikan, bahkan mencapai 5,63 persen, serta masuk dalam urutan 18 pengangguran tertinggi secara nasional.

Murjana Yasa mengakui, perbandingan tingkat pengangguran di perkotaan dan pedesaan juga sangat dalam perbedaannya. Dampak pandemi ini berdampak luas bagi daerah perkotaan. Terbukti, jumlah pengangguran tertinggi didominasi di perkotaan seperti Denpasar 7,62 persen paling tinggi, selanjutnya Kabupaten Badung 7,53 persen, disusul Kabupaten Gianyar 6,92 persen.

Ke depan dalam upaya pemulihan ekonomi yang penting bagaimana mengembangkan optimisme seperti melalui ekonomi kreatif dan digital, pendidikan, kesehatan serta pertanian yang potensinya masih sangat besar. *dik

BAGIKAN