Dampak Corona, BPR Sulit Pertahankan NPL di Bawah 5 Persen

Bank perkreditan rakyat (BPR) dalam beberapa tahun terakhir berjuang untuk menurunkan angka kredit bermasalah (NPL) akibat perlambatan ekonomi.

Gianyar (bisnisbali.com)-Bank perkreditan rakyat (BPR) dalam beberapa tahun terakhir berjuang untuk menurunkan angka kredit bermasalah (NPL) akibat perlambatan ekonomi. Ketua DPK Perbarindo Gianyar, Made Sarwa, Rabu (11/3) mengatakan melihat besarnya dampak virus corona terhadap pariwisata masih sulit langkah BPR mempertahankan NPL di bawah 5 persen.

Diungkapkannya, sebelumnya NPL BPR meningkatkan akibat perlambatan ekonomi. Untuk itu, BPR menerapkan berbagai strategi menurunkan NPL menjadi di bawah 5 persen.

Ia menjelaskan awal Februari 2020 dampak virus corona berimbas dengan pariwisata Bali. Ini terlihat dengan semakin menurunnya kunjungan wisatawan Tiongkok ke Bali.

Dipaparkannya, akibat virus corona NPL kembali melampaui angka 5 persen. ” Pascacorona NPL BPR diprediksi tetap bertengger di atas 5 persen,” ucapnya.

Made Sarwa memaparkan sulit bagi BPR mempertahankan NPL di bawah 5 persen. Ini merupakan dampak yang crusial bagi sektor perbankan akibat isu corona diikuti penurunan sektor pariwisata Bali.

Direktur Utama BPR Gianyar Partasedana ini menegaskan saat corona terjangkit di Indonesia NPL tetap bertahan di atas 5 persen. Ini akibat ekonomi melambat di tambah isu corona.

Lebih lanjut dikatakannya, Maret isu corona tidak akan signifikan berdampak sektor perbankan. ” Dampak Corona akan terasa krusial mulai bulan depan,” jelasnya.

Made Sarwa menambahkan Maret kondisi pariwisata akan terlihat semakin sepi. Ketika kedatangan wisatawan munurun, produk sektor usaha termasuk UMKM makin sulit terserap pasar sehingga terimbas penurunan kemampuan debitur membayar angsuran kredit.” Keterlambatan pembayaran angsuran kredit ini akan membuat NPL BPR melampaui angka 5 persen,” tambahnya. *kup

BAGIKAN