Cuaca Buruk Picu Kenaikan Harga Cabai

Harga cabai, khususnya cabai rawit hingga saat ini masih melambung, yang mencapai Rp 110.000 per kg.

CABAI - Penjualan cabai di pasar tradisional.

Denpasar (bisnisbali.com) –Harga cabai, khususnya cabai rawit hingga saat ini masih melambung, yang mencapai Rp 110.000 per kg. Musim hujan diduga menjadi penyebab tingginya harga cabai. Kondisi ini terjadi di beberapa wilayah di Indonesia.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Provinsi Bali I Wayan Jarta, Senin (8/3) kemarin, mengatakan tingginya harga cabai memang sering terjadi pada musim hujan. Kondisi ini selalu terjadi setiap tahunnya. Terlebih saat ini musim hujan terjadi cukup panjang.

Berdasarkan koordinasi yang dilakukannya dengan provinsi lain, Jarta menyebut, kondisi ini terjadi tidak hanya di Bali. Bahkan harga yang berlaku hampir sama di seluruh Indonesia. “Rata-rata harganya (cabai) hampir sama dengan di wilayah lain. Artinya, permasalahan yang terjadi sama di seluruh Indonesia, yaitu berkaitan dengan cuaca,” terangnya.

Lebih lanjut dikatakannya, berdasarkan koordinasi dengan Dinas Pertanian, saat ini memang tidak sedang musim panen cabai rawit. Musim hujan membuat produksi rendah. Petani dikatakan kesulitan untuk melakukan produksi.

Dengan kondisi ini, diakui Jarta, sulit melakukan upaya. Hal ini dikarenakan kondisi terjadi secara menyeluruh. “Kalau misalkan di daerah lain harganya bisa lebih murah kan kita bisa datangkan dari sana. Sementara ini harganya sama, jadi kita juga tidak bisa berbuat apa,” ujarnya.

Demikian dikatakannya, dengan gerakan menanam cabai di pekarangan, Jarta memperkirakan untuk memenuhi kebutuhan cabai dalam hal konsumsi masyarakat masih bisa. Terutama yang telah melakukan program tersebut. Namun untuk usaha, seperti pedagang makanan, kondisi ini memang masih sulit untuk dikendalikan. “Kalau impor, kita harus menunggu keputusan pusat,” imbuhnya. *wid

BAGIKAN