Cuaca Buruk, Harga Ikan Melonjak

Harga ikan hasil tangkapan nelayan di Kabupaten Tabanan mengalami lonjakan alias terkerek saat cuaca buruk membayangi belakangan ini.

Tabanan (bisnisbali.com) –Harga ikan hasil tangkapan nelayan di Kabupaten Tabanan mengalami lonjakan alias terkerek saat cuaca buruk membayangi belakangan ini. Di sisi lain, cuaca ekstrem juga menjadi musim panen bagi nelayan karena jumlah ikan tangkapannya meningkat.

Ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Tabanan Ketut Arsana Yasa, Minggu (17/1) kemarin, mengungkapkan cuaca buruk yang terjadi ini dibarengi dengan melonjaknya harga ikan khususnya yang kualitas ekspor di tingkat nelayan. Ikan jenis layur harganya naik menjadi Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu per kilogram. Harga ikan tenggiri naik menjadi Rp 80 ribu dari sebelumnya hanya berkisar Rp 60 ribu hingga Rp 70 ribu per kilogram. Sementara lobster naik ke level Rp 350 ribu per kilogram saat ini. “Lonjakan harga ikan ini terjadi sebagai dampak cuaca buruk yang pada saat bersamaan sebenarnya merupakan musim panen,” tuturnya.

Menurut pria yang akrab disapa Sadam ini, cuaca buruk sekaligus menjadi musim tangkap atau panen ikan bagi nelayan di Kabupaten Tabanan saat ini. Sebab, cuaca buruk dibarengi dengan meningkatnya kiriman air dari pegunungan ke laut yang beberapa di antaranya menjadi makanan bagi sejumlah ikan di laut lepas. Itu membuat ikan-ikan yang sebelumnya berada di laut lepas merapat ke pinggir pantai untuk memangsa sumber-sumber makanan. Akan tetapi untuk menangkap ikan di tengah cuaca buruk ini para nelayan harus kucing-kucingan dengan kondisi alam di laut.

Risiko yang dihadapi nelayan tidak hanya saat melaut. Para nelayan juga dihadapkan dengan potensi hilangnya alat tangkap. Contohnya ketika menangkap lobster dengan menaruh alat tangkap (bubu) di laut dan diinapkan di laut, bubu tersebut bisa jadi hanyut terbawa arus ketika terjadi cuaca buruk disertai meningkatnya sampah kiriman dari darat ke laut lepas. “Risiko alat tangkap dengan menggunakan jaring lebih kecil, karena ditebar pada saat cuaca baik dan tidak menginap,” ujarnya.

Arsana Yasa menambahkan, menurut perkiraan cuaca dari BMKG, dalam satu minggu ke depan kondisi ombak akan mendukung nelayan untuk melaut. Meski begitu, nelayan tetap harus mewaspadai hujan yang datang tiba-tiba disertai angin kencang. BMKG memperkirakan kondisi ini berpeluang terjadi hingga Februari mendatang. *man

BAGIKAN