Cuaca Buruk Belum Sebabkan Gagal Panen di Tabanan

Meski cuaca buruk selama tiga pekan terakhir, produksi bahan pangan di Tabanan tak terdampak signifikan.

PADI – Petani di Tabanan memanen padi.

Tabanan (bisnisbali.com) – Meski cuaca buruk selama tiga pekan terakhir, produksi bahan pangan di Tabanan tak terdampak signifikan. Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Tabanan, I Gusti Putu Wiadnyana menyatakan, cuaca buruk tak sampai membuat sentra produksi padi mengalami gagal panen. Hal tersebut berlaku juga pada komoditas hortikultura.

“Sampai saat ini belum ada laporan gagal panen akibat dari kebanjiran dampak cuaca buruk yang terjadi. Itu berlaku juga pada komoditas hortikultura khususnya cabai. Sedangkan untuk bawang belum ada penanaman pada bulan ini,” tutur Wiadnyana, Minggu (28/2).

Menurutnya, sampai saat ini belum ada laporan banjir di persawahan untuk di Kabupaten Tabanan. Sebaliknya, justru yang sering terjadi adalah rusaknya saluran irigasi disebabkan karena  tersumbatnya atau tidak tersalurnya air irigasi ke persawahan. Biasanya pada curah hujan yang tinggi cenderung menyebabkan jebol dan longsornya saluran terutama pada lahan terasering.

Selama ini di tingkat petani di masing-masing sentra produksi sudah secara swadaya melakukan antisipasi guna pencegahan banjir di areal pertanaman dengan melakukan pembersihan saluran akibat sumbatan sampah dan itu biasanya berupa spot-spot kecil atau tidak berdampak luas. Selain itu, karena kontur Kabupaten Tabanan yang cenderung berbukit dan persawahan terasering, sehingga kondisi tersebut juga akhirnya membuat ancaman banjir di sentra produksi jadi terhindarkan. “Kami pun lakukan sosialisasi terhadap potensi iklim ekstrim ke tingkat petani melalui petugas lapangan dengan mengacu pada laporan dari BMKG, sehingga petani juga siap dengan jenis tanaman yang dibudidayakan guna mencegah kerugian usaha,” ujarnya.

Bercermin dari hal itu, kata dia, hingga saat ini terkait stok pangan khususnya padi tidak ada masalah. Bahkan petani Tabanan tengah bersiap memasuki musim panen raya Maret dan April mendatang. Di sisi lain, pemerintah melalui program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) khusus di tanaman padi juga sudah meng-cover sejak tiga tahun terakhir, sehingga apabila ada kegagalan panen bisa diklaim. “Asuransi yang didapat bila terjadi klaim mencapai Rp 6.000.000 per hektar untuk satu kali musim tanam,” tandasnya.

Sementara itu, sampai saat ini untuk komoditas hortikultura khususnya cabai belum ada laporan gagal panen. Menurutnya, relatif meningkatnya harga cabai di pasaran lebih banyak disebabkan menurunnya pasokan cabai, karena populasi penanaman cabai pada sentra produksi di Kabupaten Tabanan tidak terlalu banyak dan potensi produksi cabai pada musim penghujan memang lebih kecil dibandingkan dengan kondisi iklim normal.

Untuk produksi bawang, hingga saat ini akuinya Kabupaten Tabanan belum seutuhnya menjadi sentra produksi dan masih ketergantungan pasokan dari luar kabupaten atau provinsi. ”Kalapun kita sudah mulai mengembangkan bawang pada beberapa wilayah, biasanya  memasuki bulan tanam April atau Mei sehingga musi panen diperhitungkan terjadi pada Juli atau Agustus,” tandasnya. *man

BAGIKAN