Corona Datang, Jahe dan Kunyit Berpotensi Kerek Angka Inflasi

Jahe merah dan kunyit, menurut pengamat ekonomi dari Undiknas University, Prof. IB Raka Suardana akan berpotensi mengerek inflasi pada Maret ini

Denpasar (bisnisbali.com) –Jahe merah dan kunyit, menurut pengamat ekonomi dari Undiknas University, Prof. IB Raka Suardana akan berpotensi mengerek inflasi pada Maret ini. Kondisi itu menyusul sejak munculnya kasus positif corona di Indonesia, jenis rempah-rempah tersebut paling dicari masyarkat karena dianggap bermanfaat bagi kesehatan sehingga harganya menjadi melonjak.

“Meningkatnya permintaan pasar dan juga dibarengi dengan lonjakan harga jual jahe dan kunyit ini, tentu akan berpotensi besar mengerek angka inflasi nantinya. Sebenarnya, terjadi banyak salah pemahaman di sejumlah masyarakat akan manfaat dua komoditi tersebut saat ini,” tutur Raka Suardana, Senin (9/3).

Terangnya, saat ini banyak masyarakat yang salah pemahaman terkait mengkonsumsi jahe dan kunyit ini. Imbuhnya, konsumsi dua komoditi rempah-rempah ini sebenarnya adalah untuk menambah daya tahan tubuh, bukan sebagai obat dari virus corona yang telah memakan korban di sejumlah negara ini.

“Namun karena saking takutnya, mereka (masyarakat) berlomba-lomba memborong komoditi tersebut sehingga harganya menjadi naik,” ujarnya.

Jelas Raka Suardana, meski akan menyumbang inflasi nantinya, kemungkinannya sumbangan dari lonjakan harga jahe, kunyit dan juga jenis rempah-rempah lainnya masih dalam kisaran kecil. Sebab, jenis rempah-rempah tersebut masih bisa disuplai dari petani lokal dan bukan mendatangkan atau impor.

Sambungnya, kecilnya kemungkinan sumbangan inflasi pada jenis rempah-rempah ini juga disebabkan ada potensi untuk komoditi di luar itu mengalami penurunan permintaan. Itu sebagai dampak dari menurunnya daya beli akibat multiplier efect lesunya industri pariwisata pascakemunculan virus corona.

Sementara itu, Februari 2020 dari dat BPS Bali, tercatat inflasi setinggi 0,39 persen atau terjadi kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 104,23 (2018=100) pada Januari 2020 menjadi 104,64 (2018=100) pada Februari 2020. Sementara itu, tingkat inflasi tahun berjalan Februari 2020 setinggi 0,96 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun Februari 2020 terhadap Februari 2019 (YoY) tercatat setinggi 3,50 persen.

Inflasi di Denpasar ini disumbang oleh perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan yang jatuh pada 19 Februari 2020 dan 29 Februari 2020. Momen tersebut membuat perkembangan harga berbagai komoditas (barang dan jasa) konsumsi di Denpasar secara umum menunjukkan adanya kenaikan pada Februari 2020. *man

BAGIKAN