Ciptakan Inovasi Baru Selama Pandemi

SITUASI pandemi membuat banyak orang berpikir keras untuk bertahan, karena kondisi ekonomi yang semakin terhimpit.

SITUASI pandemi membuat banyak orang berpikir keras untuk bertahan, karena kondisi ekonomi yang semakin terhimpit. Kreativitas untuk menciptakan sesuatu yang baru adalah strategi beberapa pihak. Salah satunya dengan membuat wastafel portable, yang sangat bermanfaat saat situasi pandemi ini.

Founder Marina Srikandi, Mulyadi Sukito mengatakan, situasi transportasi laut selama pandemi libur total. Karena mayoritas penumpang adalah wisatawan mancanegara. Terakhir, berlayar pada Juni mendapat charter dari kapal pesiar yang memulangkan kru kapal dari Indonesia. Karena sudah tidak ada sumber pendapatan, terciptalah inspirasi dari imbauan pemerintah mengenai protokol kesehatan.

“Salah satu fasilitas protokol kesehatan yang saya lihat kurang efektif adalah tempat cuci tangan. Banyak tersedia fasilitasnya di mana-mana, tapi limbah air kotornya diberikan mengalir ke jalanan begitu saja. Itu bukan penerapan protocol kesehatan, melainkan pencemaran lingkungan. Jadi, kita memiliki inovasi membuat tong untuk cuci tangan, yang di dalamnya mampu menampung air bersih dan air kotor. Kalau air kotornya sudah penuh, bisa dibuang di tempat yang seharusnya, dan digunakan kembali tempatnya. Tempat cuci tangan ini terbuat dari fiber glass, yang merupakan benda susah dibentuk dan pengerjaannya tidak bisa halus. Kita membuat wastafel portable yang tahan di segala cuaca, setiap waktu dan bisa dipindahkan kemana saja yang memiliki berat lebih kurang 15 kg, dipermudah dengan dilengkapi roda di bawahnya,” ujar Mulyadi.

Pembuatan satu wastafel portable membutuhkan waktu satu minggu. Mulai dari proses perakitan sampai finishing. Cara membuatnya tidak semata-mata mengunakan mesin langsung jadi, melainkan perlu dirakit kembali. Dalam proses pengeleman harus dipastikan tidak ada kebococran. Proses ini yang memerlukan waktu lama. Cara mencuci tangannya menggunakan sensor untuk mengurangi sentuhan.

“Pendapatan kita di transportasi laut nol. Andalannya adalah turis, tapi kita kan tidak bisa berdiam diri. Ada pegawai yang harus digaji, biaya operasional kapal yang cukup besar dan banyak hal lainnya. Khusus untuk Marina Srikandi, kita memiliki armada besar, jadi sangat lengkap pendukungnya. Seluruh maintenance yang mengerjakan adalah pegawai terampil dalam bidang tersebut,” imbuhnya.

Kendala pasti selalu ada, karena sudah tidak ada pemasukan sama sekali. Terutama di bagian perawatan mesin. Tapi, karena masih menggunakan pegawai sendiri, sehingga biayanya mampu ditekan. Ada beberapa karyawan yang dirumahkan, di luar bidang perawatan. Hal tersebut terpaksa dilakukan karena kondisi seperti ini. *git

BAGIKAN