Cegah Klaster Wisata, Utamakan Kesehatan Dibandingkan Sektor Ekonomi

Praktisi ekonomi di Bali menyambut positif upaya pemerintah memperketat protokol kesehatan (prokes) tempat wisata saat  pascaliburan Lebaran.

Denpasar (bisnisbali.com) – Praktisi ekonomi di Bali menyambut positif upaya pemerintah memperketat protokol kesehatan (prokes) tempat wisata saat  pascaliburan Lebaran. Penertiban prokes tempat wisata yang melanggar aturan termasuk melebihi kapasitas pengunjung yaitu melebihi 50 persen, rentan berpotensi menambah kasus baru dan klaster baru Covid-19.

“Pemerintah di mana pun di dunia ini, termasuk pemerintah Indonesia dan tentunya pemerintah Bali, mengutamakan sektor kesehatan masyarakat terlebih dahulu dibandingkan sektor-sektor lainnya (termasuk sektor ekonomi),” kata praktisi ekonomi dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bali International Institute of Tourism Management (STIE BIITM) Sahid Bali, Dr. Luh Kadek Budi Martini, S.E., M.M. di Sanur, Senin (17/5).

Menurutnya, mencegah klaster baru wisata sangat penting mengingat menyembuhkan sakit biayanya jauh lebih besar dan dampak yang ditimbulkan juga sangat besar. Bila kesehatan masyarakat  terjaga baik, maka sektor-sektor lainnya pasti ikut, apalagi sektor ekonomi. Pertimbangan inilah yang dipakai oleh pemerintah untuk memperketat orang lalu-lalang, baik masuk ke Bali maupun ke luar daerah.

Tidak heran tempat wisata pun dijaga standar prokesnya agar jangan sampai daerah tersebut atau destinasi wisata itu menjadi cluster pandemi..“Jika sampai suatu destinasi wisata kurang taat menjaga prokes akibat mementingkan sisi ekonomi saja, maka bila terjadi penularan di sana (menjadi cluster), maka yang rugi adalah destinasi itu, dan juga bisa berdampak bagi destinasi-destinasi yang lain,” jelasnya.

Menghadapi pandemi Covid-19 ini hanya bisa dilakukan dengan disiplin yang ketat, yaitu menjalankan prokes sesuai anjuran pemerintah. Jika tidak demikian, maka sampai kapan pun pandemi ini akan sulit sirna dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah. Oleh karenanya agar geliat ekonomi tetap jalan, maka setiap orang (masyarakat luas), harus bisa hidup dengan kebiasaan baru (new habit) dalam setiap aktivitas. “Dulu tidak terbiasa memakai masker, maka sekarang wajib memakai masker di manapun berada,” ujarnya.

Ia pun mengingatkan, pemakaian masker banyak yang asal-asalan, tidak sesuai standar. Misalnya ditaruh di dagu, atau sekadar hanya memakai. Padahal virus ini masuknya lewat mulut dan lubang hidung. “Jika disiplin saja memakai masker, rajin mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak, sebenarnya setiap orang akan aman dalam beraktivitas,” tegasnya.

Sementara itu pemerintah provinsi Bali telah mengantisipasi kasus penularan Covid-19 melonjak saat arus balik. Satgas Covid -19 melakukan screening dengan ketat di pintu-pintu masuk Bali.

Update penanggulangan Covid-19 hingga Sabtu, 15 Mei 2021 menunjukkan pertambahan kasus terkonfirmasi sebanyak 45 orang (41 orang melalui transmisi lokal, 2 PPDN dan 2 PPLN). Sembuh sebanyak 123 orang, dan 3 orang meninggal dunia.

Jumlah kasus secara kumulatif terkonfirmasi 46.216 orang, sembuh 43.776 orang (94,72 persen) dan meninggal dunia 1.439 orang (3,11 persen). Kasus aktif per hari ini menjadi 1.001 orang (2,17 persen). *dik

BAGIKAN