Cegah Covid-19, Penutupan Pasar Dinilai Munculkan Masalah Baru

Akademisi Universitas Udayana Prof. Dr. Made Antara, M.S., Selasa (16/6)  mengatakan, antara menjaga kesehatan dan pergerakaan (aktivitas) di pasar tidaklah bisa ditiadakan salah satunya.

Denpasar (bisnisbali.com) –Kasus positif covid-19 khususnya di Kota Denpasar hingga saat ini belum menunjukkan tren penurunan. Kemunculan kluster baru yaitu pasar tradisional memunculkan kekhawatiran, sebab menjadi tempat bertemunya banyak orang yang terkadang tidak mengindahkan protokol kesehatan. Apakah penutupan pasar tradisional harus dilakukan?

Akademisi Universitas Udayana Prof. Dr. Made Antara, M.S., Selasa (16/6)  mengatakan, antara menjaga kesehatan dan pergerakaan (aktivitas) di pasar tidaklah bisa ditiadakan salah satunya. Dalam artian jika pasar tradisional ditutup dalam kurun waktu 2 minggu untuk menghentikan penyebaran covid-19, akan menimbulkan masalah baru yang bisa saja berujung pada kelaparan.

“Kebijakan menutup pasar tradisional di perkotaan seperti Denpasar lebih dari dua minggu akan mengganggu kehidupan masyarakat dan perekonomian. Masyarakat konsumen perkotaan yang mengandalkan pasar tradisional sebagai sumber pembelian bahan pangan akan menjadi kekurangan pangan dan bisa memicu kelaparan,” terangnya.

Demikian pula, lanjut Prof. Antara, masyarakat produsen perdesaan dan perkotaan yang mengandalkan pasar tradisonal sebagai lokasi penjualan produknya akan kehilangan pasar. Produknya tidak terjual, berarti kehilangan pendapatan yang diandalkan untuk membeli produk-produk lain kebutuhan rumah tangga. “Jika banyak pasar tradisional ditutup (lockdown), secara makro akan mengganggu aktivitas ekonomi wilayah, berarti akan memperparah dampak covid-19 terhadap perekonomian wilayah,” jelasnya.

Menurutnya, ini memang menjadi dilema yang dihadapi. Jika mementingkan kesehatan berarti pasar tradisional harus ditutup, maka masyarakat akan kesulitan mencari sumber bahan pangan. Ini sama dengan membiarkan masyarakat mati kelaparan. Namun jika mementingkan ekonomi, berarti membiarkan pasar tradisional dibuka atau beraktivitras seperti saat ini yang pengunjungnya kurang disiplin dan kurang taat menerapkan protokol kesehatan WHO, maka pasar tradisional akan tetap menjadi kluster penularan covid-19. Oleh karena itu, dikatakannya, tidak bisa mementingkan salah satu dengan meniadakan yang lain karena akan menimbulkan masalah besar.

Dengan demikian, Prof. Antara mengatakan, solusi dari permasalahan ini adalah jalan tengah yaitu sama-sama mementingkan kesehatan dan ekonomi, dengan membiarkan pasar tradisional terbuka seperti saat ini atau dilonggarkan, tetapi harus menerapkan protokol kesehatan WHO secara ketat kepada semua pengunjung. Seperti halnya, memeriksa suhu tubuh setiap pengunjung di pintu gerbang masuk pasar, mewajibkan setiap pengunjung memakai masker dengan memeriksa di pintu masuk pasar, setiap pengunjung yang akan masuk pasar disemprot cairan antiseptik, mewajibkan setiap pengunjung mencuci tangan dengan antiseptik yang disediakan oleh pengelola pasar, membatasi jumlah pengunjung hanya 50 persen dari kunjungan normal, menganjurkan kepada setiap pengunjung menjaga jarak dengan pengunjung lain setidaknya satu meter yang terus-menerus diumumkan melalui mikrofon di pasar. “Dengan  mengambil jalan tengah seperti ini, baik kesehatan maupun ekonomi sama-sama jalan, sehingga kebutuhan masyarakat akan pangan terpenuhi dan pasar tradisional sebagai kluster penularan covid-19 dapat diminimalisir bahkan ditiadakan,” imbuhnya. *wid

BAGIKAN