Catatan Akhir Tahun, Kemarau Berkepanjangan, Petani di Bali ”Ketar-ketir”

Musim kemarau berkepanjangan tampaknya jadi pukulan berat bagi petani, khususnya di sektor pertanian padi di Bali tahun ini.

DAMPAK - Salah satu lahan sawah yang mengalami dampak kemarau berkepanjangan pada tahun ini.

Musim kemarau berkepanjangan tampaknya jadi pukulan berat bagi petani, khususnya di sektor pertanian padi di Bali tahun ini. Betapa tidak, sejumlah petani terpaksa tak bisa mengolah tanah. Ironisnya lagi ada petani yang memaksakan tanam padi namun akhirnya gagal, padahal sudah mengeluarkan biaya cukup besar. Lalu apa yang harus dilakukan untuk mencapai target produksi padi sekaligus swasembada pangan?

BALI sejatinya memiliki potensi yang menjanjikan untuk pengembangan sektor pertanian. Namun di balik potensi tersebut ada sejumlah faktor yang selalu menghantui petani dan berpotensi mengakibatkan kerugian. Itu sejalan dengan sektor pertanian yang memiliki ketergantungan cukup besar pada kondisi alam atau iklim. Kondisi tersebut terbukti terjadi pada tahun ini, berubahnya siklus kondisi alam telah membuat petani di Bali menjadi ketar-ketir karena tidak memiliki kepastian terhadap memulai musim tanam dan kepastian terjaminnya ketersediaan pengairan untuk irigasi sawah selama budi daya.

Tahun ini dampak dari kemarau sudah dirasakan oleh sejumlah petani di kabupaten/kota di Bali sejak awal Agustus. Salah satunya, terjadi di Kabupaten Tabanan yang merupakan daerah lumbung pangan Provinsi Bali. Itu tercermin dari luasan areal tanam sawah (padi) yang mengalami dampak kemarau atau kekeringan di Kabupaten Tabanan makin meluas pada Agustus lalu. Betapa tidak, jika awal Agustus hanya terjadi di dua kecamatan yakni Kecamatan Tabanan mencapai 0,40 hektar atau 40 are dan di Kecamatan Marga 2 hektar sekaligus menjadi daerah yang terparah terdampak fenomena alam ini. Jelang akhir bulan yang sama luasan sawah mengalami dampak kekeringan telah menyebar terjadi di lima kecamatan.

Koordinator POPT Dinas Pertanian Tabanan, Ir. I Nengah Durmita mengungkapkan, data per 28 Agustus 2019 untuk di Kecamatan Tabanan kekeringan terjadi di luasan 17,40 hektar dengan rincian, 17 hektar rusak ringan, dan 0,40 hektar rusak berat. Sambungnya, di Kecamatan Marga dampak kekeringan terjadi di luasan 8 hektar dengan rincian intensitas ringan mencapai 2 hektar, rusak sedang 4 hektar, dan berat mencapai 2 hektar. Sementara untuk di Kecamatan Kediri total sawah yang mengalami kekeringan mencapai 14 hektar yang semuanya merupakan serangan dengan intensitas ringan, sedangkan di  Kecamatan Kerambitan mencapai 2 hektar dengan intensitas ringan, dan Selemadeg Barat dampak kekeringan mencapai 1 hektar dengan intensitas ringan.

“Rata-rata usia tanam padi yang mengalami dampak dari kekeringan berkisar 25-70 hari. Usia tanam tersebut merupakan dalam tahap memerlukan pengairan yang cukup untuk keberlangsungan budi daya,” tuturnya.

Kelian Tempek Jemanik Subak Apit Jaring, Desa Kuwum, Kecamatan Marga, Tabanan, Wayan Jirna mengungkapkan, musim kemarau tahun ini berdampak pada produksi padi. Itu disebabkan tidak adanya aliran air ke sawah akibat musim kemarau, bahkan sebagian padi petani terancam gagal panen. Subak apit jaring bagian dari salah satu persawahan yang kekeringan di Tabanan karena musim kemarau.

Sementara itu, Rektor Universitas Dwijendra Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc., MMA, mengungkapkan, tahun ini musim kemarau yang relatif panjang jadi alarm atau sinyal signifikan terhadap terwujudnya pencapaian tujuan pembangunan pertanian, yakni terkait dengan ketersediaan produksi padi (beras). Menurutnya, jika pemerintah dan subak tidak menangani secara serius fenomena alam ini, swasembada beras dapat terancam nantinya.

Jelas Gede Sedana, musim kemarau ini memberikan dampak terhadap menurunnya debit air di tingkat sumber seperti sungai. Akibatnya, air irigasi yang mengalir melalui bendungan ke petak-petak sawah jadi sangat terbatas. Oleh karena itu, para petani yang biasanya pada awal Desember sudah melakukan pengolahan tanah, tetapi menjadi mundur karena dampak kemarau panjang yang terjadi.

“Bergesernya musim ini membuat para petani sebagai anggota subak jadi ragu-ragu untuk melakukan penanaman tanaman padi. Kondisi ini juga bisa menghambat tercapainya swasembada beras di tingkat provinsi,” kilahnya.

Sambungnya, menyikapi hal tersebut sekaligus guna mengejar keterlambatan musim tanam, maka dalam negelolaan penanaman di musim berikutnya dapat dipercepat. Selain itu, efisiensi penggunaan air irigasi menjadi fokus perhatian bagi para petani untuk mengelola usaha tani. Menurutnya, jika situasi ini dapat dilakukan, maka swasembada beras masih bisa tetap dipertahankan di Bali nantinya. *man

BAGIKAN