Bunga Pinjaman Turun, Diharapkan Pengajuan Kredit Meningkat

Pemerhati ekonomi dari Undiknas University Dr. Agus Fredy Maradona menyampaikan suku bunga acuan bank Indonesia atau BI 7 day repo rate (BI 7DRR) yang turun menjadi 4 persen setelah mengamati kondisi ekonomi makro,

Denpasar (bisnisbali.com) -Pemerhati ekonomi dari Undiknas University Dr. Agus Fredy Maradona menyampaikan suku bunga acuan bank Indonesia atau BI 7 day repo rate (BI 7DRR) yang turun menjadi 4 persen setelah mengamati kondisi ekonomi makro, misalnya tingkat inflasi yang rendah, serta sebagai upaya untuk mengakselesari pemulihan perekonomian Indonesia. Namun penurunan suku bunga ini baru akan berdampak apabila industri perbankan juga telah melakukan penurunan suku bunga kredit.

“Tentu harapan saya pihak perbankan Indonesia menyikapi penurunan BI 7DRR ini dengan penurunan suku bunga kredit secara signifikan sehingga lebih menarik minat masyarakat untuk mengajukan kredit produktif maupun konsumtif,” katanya.
Pengucuran kredit produktif dengan bunga yang semakin rendah ini dapat berjalan beriringan dengan upaya menghidupkan kembali perekonomian Bali melalui pariwisata, yaitu pelaku usaha bisa memperoleh modal kerja. Kredit konsumtif juga perlu dijalankan agar masyarakat tidak lagi menahan konsumsinya, karena dalam jangka panjang konsumsi masyarakat yang meningkat justru bisa mempercepat pemulihan perekonomian.

Hal sama dikatakan pemerhati perbankan lainnya, Kusumayani, M.M. Kata dia, suku bunga kredit turun selaras BI 7 DRR menjadi harapan sebagian besar pelaku usaha. BI 7DRR turun diharapkan suku bunga perbankan juga bisa stabil sehingga sektor usaha dapat bangkit. Sektor usaha dapat tumbuh maka perekonomian juga bisa tumbuh. Ini berarti ada kesiapan dalam menghadapi era new normal dan bisa bersaing dengan ekonomi luar.
Beda bila BI 7DRR tinggi diprediksi bank akan menaikkan bunga pinjaman sehingga menjadi salah satu penyebab mentoknya pertumbuhan industri atau pelaku usaha. Tidak sedikit dari pelaku usaha yang tutup usaha karena keberatan membayar bunga bank yang mereka pinjam.

“Tentunya penurunan BI 7DRR dilakukan dengan kehati-hatian yang tinggi karena BI masih mengkhawatirkan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Belum lagi prediksi pelemahan ekonomi global tahun depan masih membayangi,” paparnya.
Sementara pengamat perbankan IB Kade Perdana berharap, BI bisa lebih banyak melihat ke dalam negeri dengan mengeluarkan kebijakan yang mampu memperkuat fundamental perekonomian dalam negeri menjadi tidak sensitif (rentan) terhadap risiko apa pun yang datang dari luar. Ke depan tidak lagi Indonesia menjadi barang mainan dari negara lain dan mampu berdiri tegak di atas kaki sendiri (berdikari).
“Itu sebagaimana yang dicanangkan oleh founding father kita,” ujarnya.*dik

BAGIKAN